Dua Malam Satu Nama: Superelja!

“Walau lelah kami tak kan menyerah, kami tak kan menyerah…” terdengar begitu lantang di pejam mataku. Teman-teman masih membawakan instrumen mereka dan aku berhenti bernyanyi untuk sepenggal lirik ini. Panggung sungguh meriah dengan lampu dan artistik lainnya yang serba mewah, macam mahkota yang megah sebagai pamungkas pagelaran penuh syukur akhir musim. aku sudah terheran-heran sejak pagi tadi dan semakin takjub setelah Maghrib menggema. sudut-sudut tak terlewat kosong dan orang-orang sudah berjejal merangsek ke depan demi lantunan doa mereka pada sepakbola. Aku sendiri jarang takjub pada gelap, tapi mendengarkan mereka menyanyikan lirik ini adalah senyum pada mataku yang terpejam. Sedetik kemudian aku membuka mata kembali dan bernyanyi lagi bersama mereka dengan bangga. 

Setelah sorak dan jingkrak dari dua lagu pembuka sebelumnya, lagu ketiga dari lima persiapan kami memang mengisyaratkan permenungan, seperti jeda paruh kompetisi yang lalu saat hasil-hasil pertandingan kadang begitu membingungkan. Ada sedikit waktu untuk lebih tenang barang sebentar sambil mempertanyakan dalam diri sendiri masihkah kami punya alasan untuk bertahan. Logika dapat patah kapan saja dalam sepakbola dan itulah alasan paling wahid kenapa sorak-sorai dan gemerlap masih ada sampai hari ini.

Sementara itu flare menyala di sana-sini, di tak beraturan dalam kerumunan, melengkapi lagu-lagu yang terus dijejali rasa. Serupa lilin pengiring doa, nyalanya menjadi amin paling khusuk antar lirik yang diteriakkan oleh kami semua, di atas panggung sini dan di hadapanku sana. Menyelimuti rasa syukur dan langkah-langkah yang tidak pernah berhenti dalam pijaknya. Derap-derap langkah perjalanan dan keringat terangkum di awal malam ini dalam pijar dan kepulan asap, dalam parau suara yang terus saja. Tuhan mungkin tersenyum menyadari bahwa doa-doa yang terucap paling serak sepanjang peradaban manusia ternyata datangnya dari sepakbola, dan yakinku, “Tuhan tidak menyesal atas ini.”

Panitia meminta satu lagu lagi setelah yang kelima disorakkan tapi kami rasa malam itu sudah cukup terbungkus rapi.”wes kadung dicopoti e..” seloroh kami turun pentas.

Dua hari berselang sejak itu adalah pertandingan pamungkas di sore Ahad. Superelja sudah aman bertahan di liga tertinggi untuk musim depan dan nampaknya hanya pesta yang ada dalam sorot mata orang-orang. Siapapun lawannya sore itu tak lagi lebih penting ketimbang janji-janji pertemuan. Sepakbola dirayakan oleh para penggiatnya yang tinggal dan yang pulang, dalam gelas-gelas orang tua maupun dalam gelak-gelak tawa yang pecah meskipun langit mendung. Bahkan hujan menuju kick off tidak menyurutkan apapun sore itu di Maguwoharjo. Barisan tribun selatan rapat dengan segera di tengah deras, berlomba adu keras dengan suara kami dan tampaknya kami yang menang. Macam confetti di tengah pesta, guyuran hujan justru memeriahkan nyanyian. 

Gol datang cepat sore itu sebelum kami benar-benar meminta dan setelahnya bergulir lagi gol-gol untuk kami seperti Tuhan mengabulkan doa, datang seperti mukjizat yang tiba-tiba dan sorak dari tribun sulit dipadamkan. Aku melihat sekeliling dan sekali lagi memejamkan mata seperti malam itu di pentas. Sorak ini yang selalu menggema bahkan dalam diam. Manusia-manusia satu tekad meneriakkan hal yang sama: PSS adalah bagian dalam hidup yang akan selalu kami banggakan.

Flare menyala tiap bola merangsek masuk gawang lawan. Federasi mencoba menghentikan kami dengan ancaman denda tapi kali ini tak ada sama sekali peduli. Sepakbola adalah milik kami dan karenanyalah kami menjaganya dengan sungguh. Setiap api menyala di satu sudut maka gelegar suara makin nyaring dan karenanya pula kami tidak berhenti bernyanyi sore itu. Asap mengepul di tengah hujan yang masih awet dan pertandingan terpaksa berhenti. Kami terus bernyanyi dalam gelora yang sulit reda. Dalam jeda waktu itu, sekali lagi kataku dalam hati, “Tuhan tidak menyesal atas ini.”

Tonggos,

Desember 2019