Harapan di Ujung Pekan

Tidak ada hore menjelang liga. Kompetisi sepak bola terpaksa dihelat tanpa persiapan yang matang. Undur mengundur sepak mula sampai pada titik kepasrahan. Selamat datang sepak bola dengan prinsip yang penting jalan. Dalam gulita tanpa gempita, disambut seadanya saja. Sebab kita rindu sepak bola yang bukan dalam bentuk tayangan televisi. Ketika serangan balik berpadu sorak tanpa berjejal iklan.

Apa boleh buat? Kata mereka ini kahanan. Orang pintar buat aturan, kita diminta menjalankan. Orang pintar melanggar aturan, kita diminta memaafkan. Kalut betul. Tapi pada akhirnya, di ujung pergulatan hari yang kian sulit ini sepak bola jadi tempat kita membasuh muka. Seperti oase di tengah gurun, sepak bola senantiasa dicari dan dinanti. Sebagai katarsis yang diupayakan selalu, kepada sepak bola kita menaruh harap.

Barangkali PSS. Belakangan meyakininya dalam keraguan. Bagaimana tidak? Jelang laga perdana melawan Persija kemarin, PSS tiada menampakkan renjana. Kita terpaksa bercinta di hari Minggu tanpa hasrat. Sulit untuk berbohong jika nyatanya memang tidak ada gairah. Tagar dan cuitan serba yakin itu mulai bermunculan, lalu kupikir sebagian orang sepertinya masih berusaha mencari bayangan. Sebagian yang lain toh mengakui, bahwa laga perdana PSS kali ini memang sulit diharapkan. Di sela-sela “Ayo Man!” ada “Alhamdulillah, sing penting ono bal-balan”. Tanpa ekspektasi berlebihan PSS akan menang, jika Elang Jawa bisa kasih repot Macan Kemayoran saja itu sudah cukup. Sabtu datang mau tidak mau. Maka bagiku, saatnya bersiap menerima keberuntungan.

Satu sama. Sleman ditahan imbang Persija di laga perdana. Maka, keduanya musti berbagi poin. Terlepas dari hasil akhir yang penuh syukur, setidaknya hari itu kita menyaksikan Sleman berupaya mengejar ketertinggalan angka. Ketika Irfan Jaya berlari menyerang dan berusaha mencari peluang, di situ kita semakin dekat dengan keberuntungan. Tapi PSS tidak boleh lupa bertahan, bukan main, Persija punya juru gedor sekelas Riko Simanjutak yang berkali-kali mampu merepotkan lini pertahanan Sleman. Setelah lima puluh lima menit berjalan, entah mengapa rasanya jadi lebih tenang meski keduanya masih saling menyerang. Oh ternyata Syamsul masuk, menggantikan nomor punggung delapan. Tapi toh kita masih tertinggal satu nol sejak menit tujuh belas. Masih ada waktu. Kita belum kalah selama belum berhenti melawan.

Pertandingan itu tiba-tiba mulai mendorong muncul harapan dan keyakinan. Benar saja, serangan PSS berbuah manis di menit enam puluh tujuh. Umpan Irfan Jaya di sambut Arsyad, tendangannya mengarah ke gawang namun masih mampu ditepis Andritany. Irkham Mila yang berada dekat dengan muntahan bola itu sontak memberi reaksi. Bola ditendang, masuk ke gawang! Terimakasih, akhirnya bisa kembali merayakan gol meski bukan dari teras tribun. Pemuda yang lahir di Tegal dua puluh tiga tahun silam itu bernama Irkham Zahrul Mila dengan nomor punggung dua puluh tujuh. Gol penyeimbang kedudukan yang ia cetak merupakan simbol pembuktian, bahwa hasrat PSS untuk menang masih ada.

PSS yang tidak bisa banyak diharapkan sebelum bertanding melawan Persija, seketika menampar siapapun termasuk saya sendiri. Irkham menutup sebelah matanya dengan telapak tangan kiri setelah mencetak gol. PSS ora sepele! Hasil imbang ini membantu kita menerka jawaban untuk pertanyaan minggu depan melawan Persiraja. Harapan di ujung pekan, yang ratusan hari lalu tidak ada.

 

ditulis oleh: Alif Madani