Mengintip Sepakbola Lewat Timur

Tak lama sebelum kepulangan,

Pada satu malam yang berantakan, penuh kebosanan dan rutinitas kurasa semakin menjemukkan. Mencoba keluar dari jadwal harian pulang kerja, kuputuskan menonton The Adams di seputaran selokan mataram. Bertemu beberapa wajah teman lama termasuk mas Christian yang masih saja bertugas sebagai fotografer musisi-musisi indie ibukota. Aku mulai mempertanyakan dalam hati, “udah ketuaan belum sih aku buat hal-hal ini?” Ga begitu lama, The Adams naik panggung. Di tempat yang sama seperti sebelumnya aku menonton Efek Rumah Kaca, seperti biasanya pula aku ga bakal liat performa band yang tampil karena sesaknya barisan depan. Orang-orang tua ini muncul dengan aura yang sama beringasnya seperti dulu waktu aku usia belasan. Tidak menua sama sekali.

Sejak rilis Agterplaas, lagu Timur adalah yang paling kutunggu penampilan langsungnya. Benar saja, sedari intro dimulai nafasku tercekat. Menurutku ini tentang kematangan berpikir para personil The Adams, yang segera masuk di pikiranku sejak kemunculannya pertama. Sekalipun Timur ditulis tentang keluarga, lagu ini cukup ngeri karena dengan segera berubah sangat personal untukku tentang sepakbola. Di sebuah wawancara, Tompi pernah bilang bahwa sebuah lagu akan menemui takdirnya sendiri. Mungkin ini takdir Timur untukku.

Setelah konser malam itu, Timur selalu kuputar setiap kali berangkat dan pulang kerja termasuk sampai malam ini. Malam peluncuran album kompilas PSS FOR LIFE. Band kami kembali kedua kalinya setelah vakum dalam waktu yang lama dan aku merasakan kegilaan yang lebih dari yang sebelumnya. Tak lama setelah lagu pertama kami mainkan, panggung segera sesak dengan para manusia yang masih setia merayakan sepakbola. Aku sendiri sempat bingung –yang pertama memang karena anggur- bagaimana manusia di sekitarku ini tidak pernah menyerah memperjuangkan sepakbola?

Masa depan kadang menakutkan, penuh dengan ketidakpastian. Lebih mudah jika tak dipikirkan. Kita bisa membuat rencana untuk sekian tahun ke depan. Tapi percuma jika selesai di tengah jalan.

Paruh musim pertama bagi PSS Sleman sejak kembalinya ke kasta tertinggi, semua orang nampak gusar bagaimana PSS akan mengarungi sisa musim dengan budget belanja yang minim dan kepengurusan yang terkesan bisu. Orang-orang di sekitarku ini pasti menggusarkan hal yang sama denganku tapi tetap menjaga gairahnya untuk sepakbola. Aku sempat memilih mundur menjauh, sementara mereka masih tinggal. Nampaknya botol-botol anggur merah sedikit menjawab ketakutan, mencuri waktu sebentar untuk tidak memikirkan segala kegalauan sembari tetap merayakan dan bertahan di sepakbola. Setidaknya mimpi untuk tetap bertahan masih bisa terjaga.

Kadang kita tak kan mendapatkan yang diinginkan dan diimpikan, semua usaha hanya sia-sia.

Perjalanan PSS Sleman di separuh musim memang mendebarkan. Sleman Fans yang berangkat pertandingan tandang sempat merayakan beberapa poin yang berhasil dicuri tak terduga, sementara beberapa pertandingan kandang yang disesaki pendukungnya menyisakan hasil imbang dan kekalahan yang menyesakkan. Tapi bukankah hasil-hasil mengejutkan seperti ini sudah biasa terjadi bertahun-tahun sebelumnya, bahkan ketika tribun belum sepenuh ini dan belum sebanyak ini yang peduli? Peluit akhir yang tidak dibunyikan di atas kemenangan bagaimanapun selalu saja menyakitkan.

Namun tiap kudengar namamu, makin terbayang masa depanku. Semakin jelas tujuan dan yang kuharus lakukan. Saat aku dan kamu bicara tentang harapan dan cita-cita, semua yang kita damba akan terasa seperti sangat nyata.

Tampaknya tak pernah jadi soal, entah di dalam tribun atau di luarnya, entah di sepanjang pertandingan maupun sebelumnya atau bahkan setelahnya, entah saat bersama teman-teman atau sedang sendiri, menyanyikan lagu-lagu untuk tim ini selalu membangkitkan semangat. Selalu ada harapan yang kembali tumbuh, selalu ada cita-cita yang kembali ingin diperjuangkan. Setiap kali, setiap kali menyanyikan lagu tentang PSS Sleman aku selalu bisa mengingat segala perjalanan dan perjuangan yang sudah pernah kulakukan, sekaligus membayangkan perjalanan dan perjuangan di depan.Sepakbola adalah perjalanan tanpa akhir, yang hari ini membutuhkan tekad sama kuatnya seperti hari kemarin. Sepakbola tinggal lebih lama dari 2×45 menit dalam diri para pengikutnya. Dan untuk alasan ini, aku gemar sekali bergumam lagu-lagu tentang Superelja.

Aku tak bisa menjanjikan surga atau bahagia untuk selamanya tetapi jika engkau terus percaya,pasti akan ada jalan.

Kemenangan adalah impian semua orang namun bukan hal yang bisa diraih pasti. Tak terhitung lagu-lagu yang kita nyanyikan mengharapkan kemenangan, tapi kita sadari terkadang hidup menampar keras wajah kita tanpa poin 3. Tapi bukankah sudah takdir orang-orang kuat untuk selalu bertahan? Jika satu kekalahan sudah mematahkan harapan kita, maka aku percaya saat ini tribun Maguwoharjo tidak akan penuh sesak penonton. Beribu-ribu manusia termasuk kalian masih memilih datang menyaksikan pertandingan, menyisipkan rasa percaya sejak peluit belum ditiup, dan berharap datangnya kemenangan.

dan di hariku yang paling kelam, semoga aku akan mengingat bahwa ini sementara dan akan segera pergi dengan cepat.

…amin

(Tonggos/September 2019)