Nasionalisme di Garis Putih

Nasionalisme buatku selama hidup tidak pernah begitu berarti. Aku kesulitan mencintai negara berdaulat ini dengan seabrek kericuhan dan obrak-abrik isi bangsa. Suatu hari teman-teman satu indekos mengajakku menonton timnas garuda di ibukota. Aku memutuskan ikut nyaris tanpa uang saku. Terlebih aku adalah anggota baru di Ultras PSS, maka berangkat adalah opsi untuk belajar dari para pendahulu. Berkumpul di stasiun diam-diam, kami berangkat dalam rombongan kecil 6 orang saja. Membayar tarif kereta 5 ribu di atas gerbong, kami didepak di Cirebon oleh polsuska. Sebagai anggota baru, aku wajib menjaga banner kami sepanjang perjalanan, memastikan bahwa buntelan kain ini sampai di GBK dan tergelar tepat waktu. Berganti kereta kedua, banner masih dalam pelukan, sekaligus menjadi bantalan tidur yang sayup-sayup sambil tahan lapar karena uang saku tak cukup mewah untuk jajan di atas gerbong. Rombongan kami dijemput di Stasiun Senen dan melajulah kami dalam nyaring subuh ibukota, dalam gelinding jurusan cepek dua. 

Tiba di Lebak Bulus kami disambut hangat oleh beberapa GK, bang Debul, bang Roten, bang Ambon, bang Aceng, dan beberapa lain. Alkohol membuka obrolan sejak datang di pagi hari sampai menjelang pertandingan maam harinya. Banner selalu dalam pengawasanku. Aku menantikan betul bagaimana pertandingan timnas akan mengisi satu plot di hidupku. Gelora Bung Karno penuh sesak orang-orang, aku terkesima pada antrean macam ini karena pertandingan PSS waktu itu tidak terlalu seantusias ini kualami. Dalam hati, aku masih penasaran bagaimana rasanya mendukung tim nasional sementara aku ga cinta cinta amat. Aditio nyeletuk di tengah kebengonganku, “nanti coba rasain.”

Pertandingan hampir dimulai. Komando menggelar banner andalan kami keluar dan kesibukan dimulai di situ. Banner terpasang di sudut Ultras PSS biasanya mendukung timnas di GBK. Orang-orang riuh bertepuk tangan waktu Budi Sudarsono memulai pemanasan. Ismed Sofyan juga mulai menendang umpan lambung. “Oh ini kualitas nasional,” kataku dalam heran. Ellie Eiboy juga latihan gocek kiri-kanan. Announcer menggemakan suara seketika orang-orang ikut berdiri termasuk juga kami. Dimulailah Indonesia Raya serentak seisi stadion. Bulu kuduk berdiri langsung. Makgreng terasa. Nasionalisme tumbuh saat itu juga untuk 90 menit ke depan. Ini yang ternyata kutunggu sejak hari lalu sebelum kami berangkat.

Gregetan sepanjang pertandingan karena kontrol sempurna depan gawang Budi Sudarsono gagal ceploskan bola. Meski tidak merayakannya semeriah aku mendukung PSS Sleman, tenyata hati bisa dag dig dug juga menonton timnas garuda. Rasanya mirip-mirip menonton Taufik Hidayat membawa nama negara di ajang badminton, juga kabar-kabar lain para atlet membanggakan Indonesia. Richard Sambera juga menyita perhatianku dulu waktu ia memenangkan nomor gaya bebas 50 meter. Sepakbola dan mungkin olahraga lain menumbuhkan kecintaan pada bangsa ini lebih besar dari apapun yang pernah kurasakan.

Tonggos,

Mei 2020