Sore yang Diberkati: 9 Tahun Berlalu

Kalau kamu pernah menyaksikan sepakbola dalam satu sore hujan deras hingga petir adalah ancaman yang betul-betul, mungkin waktu itu kamu berdiri bersamaku. Sore itu adalah hari yang penuh harap layaknya pertandingan-pertandingan biasanya hampir satu dekade lalu. Siangnya terik tapi mengundang awan dan aroma hujan sudah sangat akrab di ujung hidung kami yang sulit tidur sejak semalam. PS Sleman di satu dekade lalu adalah tim yang selalu khawatir apakah musim ini bisa bertahan di liga divisi utama, karenanya setiap pertandingan adalah final yang sungguh-sungguh. Terpeleset sedikit sama dengan terpelanting jauh karena poin susah sekali diraih dan para pendukungnya dijebak dalam rasa was-was. Itulah hari di mana sore itu terjadi. 

Semalaman kami tidak cukup tidur karena merayakan datangnya pertandingan hingga larut, dengan anggur botolan murah dan obrolan tentang segala kemungkinan dalam pertandingan yang semakin dekat. Segala khawatir diredam dalam denting gelas yang diputar berurutan. Sesekali obrolan berisi perbandingan kualitas pemain dalam head to head sekenanya, yang mungkin isi perbincangannya lebih sarat doa daripada analisis yang akurat, hanya saja kami tidak bosan-bosan bicara sepakbola hingga larut. Kadang rasa tak sabar diobati genjreng gitar Bagong dan kami menyanyikan lagu-lagu Superelja nyaring dini hari itu  mengganggu tidur para tetangga.

Kesiangan tentu saja adalah barang lazim untuk satu matchday di kandang sendiri. Teman-teman yang masih kuliah sudah duduk anteng dalam pening kepala dan rokok yang tersisa sambil mencoba mencari absen titipan pada siapa saja yang ada di kampus, sementara yang bekerja dipastikan akan datang tak lama setelah makan siang setelah mengelabui atasannya dengan ijin separuh hari dan kunjungan-kunjungan tak kembali lagi. Lewat tengah hari semua bersiap satu-satu tanpa komando, mandi dan berganti busana terbaik hampir seperti pergi pesta di Grha Sabha yang katanya katering mantennya nomor wahid dan antrian gedungnya panjang bukan kepalang. 

Sore itulah, jika kamu ingat, sebuah sore yang sepi peminat. Tribun timur dan barat nyaris kosong jika tidak ada tiket gratisan pemda yang cuma-cuma. Prestasi tim yang menyita rasa ini menutup gairah orang-orang untuk berbondong-bondong datang. Hanya tribun belakang gawang yang bisa dilihat isinya, itupun lebih banyak lengangnya. Suara bola dioper dalam sesi pemanasan memuakkan telinga kami, maka bergegaslah kami bernyanyi bahkan sebelum peluit kick off ditiup wasit. Bendera-bendera sudah mulai dikibarkan di sisi pagar pintu masuk. Dalam ingatanku, beberapa komunitas lain juga ikut berkumpul di tribun selatan dalam wilayahnya masing-masing yang nyaman. Kadang kami semua bernyanyi satu lagu yang sama, di waktu lain bernyanyi beda rima sesuai selera sendiri-sendiri. 

Pertandingan sungguh memuakkan sepanjang jalan karena tim kami gagal melulu jebloskan bola, sementara Bojonegoro sebagai tamu menekan dari menit awal hingga hampir akhir. Hujan turun tiba-tiba tanpa gerimis dan pandangan kami ke lapangan segera berganti dengan kutukan. Lapangan kelewat becek, sepakbola berubah awur-awuran dalam lumpur dan genang dimana-mana. Lagu-lagu tidak lagi sampai di telinga pemain karena 30 orang dari kami tidak cukup kuat bernyanyi menantang gemuruh. Entah siapa yang memulai, kami berangsur turun satu persatu menuju pagar depan dengan harapan lagu-lagi dapat lebih jelas terdengar. Dalam deras ini kami bernyanyi sekencang-kencangnya. Bendera-bendera ikut dibawa, dikibarkan di atas pagar dan dengan segera orang-orang mengikuti kami berkumpul, tepat di tengah, belakanh gawang tribun selatan. Menyanyikan lagu apa saja yang penting Superelja, dalam satu tempo yang sama, dalam satu keinginan yang sama bahwa dukungan kami semua sampai di hati penggawa. Aku sendiri larut di euforia yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa inilah kegilaan yang benar-benar.

Pertandingan sore itu terpaksa berhenti dalam sekian menit tertunda. Kalau kamu lupa sore itu, itulah hari pertama tribun selatan yang tidak padam.

Tonggos,

Februari 2020