Tembok Tak Menjawab Teriakkan di Wajah Mereka

[…kita kalah, kita banyak kecewa, hari, hari ini, especially babak kedua. Saya bicara baru tadi sama anak-anak, banyak pemain drop babak kedua. Saya, masih bingung saya. Masih bingung saya kenapa seperti yang ini babak kedua. Babak pertama kita kontrol, kita ada 2-3 kesempatan untuk masuk gol. Madura tidak ada sama sekali shoot. Babak kedua saya tidak tau kenapa kita drop banyak. Kita coba berubah, masuk berapa pemain tapi tidak ada responsibility seperti yang..yang kemarin…]

Saya mencabut headset setelah memutar video 1 menit dari akun ofisal PSS selama 17 kali demi transkrip konferensi pers usai kekalahan kontra Madura -tentu saja setelah kemarahan dalam hati saya sedikit reda. Semakin lama mengulang videonya, pikiran saya makin terganggu oleh penyataan pelatih kepala. Seorang nahkoda untuk kapal yang mengarungi bahtera kehilangan alasan kenapa ia tidak dapat menaklukkan ombak. Lebih buruk lagi, ia kebingungan menjelaskan perihal kegagalannya sore itu. Dan yang paling buruk, ia tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi dengan mengatakan bahwa lawan tidak membuat peluang sama sekali di babak pertama sementara para pendukung menyaksikan bola mantul di tiang gawang Ega, nyaris membuat PSS ketinggalan lebih awal. Dejan, begitu ia suka dipanggil, mengatakan bahwa PSS membuat 2-3 serangan di babak pertama sementara sekali lagi para pendukung disajikan data: 0 shot on goal sepanjang 90 menit. Pembohong, saya lebih suka memanggilnya demikian. Fakta bahwa Super Elang Jawa tidak membuat tendangan ke arah gawang sama sekali adalah berita paling pilu di atas kekalahan yang menguras emosi. Pertandingan sama sekali sulit untuk ditelan, strategi andalan -atau yang paling pamungkas- adalah umpan lambung berulang-ulang yang berulang kali pula gagalnya.

Tidak melihat perjuangan yang seharusnya melawan Madura, para pendukung menumpahkan kemarahan, kekecewaan, dan rasa frustasi di media sosial mana saja yang bisa dijangkau. Tagar mengusir Dejan muncul kembali. Bukan kali pertama, tagar serupa pernah terbit di pagelaran Piala Menpora lantaran permainan dinilai tidak elok sama sekali. Dejan menanggapi dengan kalimat bernada apologi, skuat belum lama terbentuk dan strategi belum juga matang. Kebetulan PSS sampai di tiga besar turnamen pra-liga, melewati drama hadiah pinalti dan kemenangan-kemenangan tipis -yang dimenangkan dengan strategi umpan panjang pula. Para pendukung masih belum bisa menikmati sepakbola yang membingungkan racikan Dejan tapi peringkat 3 seakan memaafkan keburukan. Tagar redam begitu saja dengan harapan tim akan siap mengarungi liga. Pertandingan pertama kontra Jakarta berakhir imbang, laga kedua dilalui dengan permainan yang sungguh buruk di babak kedua melawan Aceh. Publik mulai sanksi akan kemampuan Dejan meracik strategi, tekanan datang kemudian lantaran PSS akan melawan Malang. PSS mampu merebut angka setelah pemain asing yang baru tiba membuat gol , dengan catatan Malang luput memanfaatkan serangan dan cenderung menendang bola ke segala arah di depan gawang Ega. Harapan timbul kemudian bahwa PSS mulai menemukan permainan. Melawan Madura, semua harapan pupus dan para pendukung marah memuncak sekali lagi. Tagar naik. Dibarengi poster-poster usiran bagi pelatih kepala yang ramai tertempel di tembok-tembok sudut kota mana saja. Dan Dejan sekali lagi berujar, tim baru saja berkumpul.

Reaksi yang timbul bukan lagi aksi prematur dari para pendukung seperti dinilai kebanyakan orang di masa pra-liga. Proses yang didengungkan berulang-ulang tidak menunjukkan keberadaannya kecuali strategi umpan lambung yang repetitif. Tekanan kali ini adalah kesimpulan dari ribuan pasang mata yang memicing tiap kali PSS kudu berlaga. Permainan cenderung memalukan. Seiring tembok-tembok mulai penuh poster-poster swadaya, yang kolektif dan masif. Lantas apa artinya menempel poster bagi para pendukung yang tidak lagi bisa menjangkau klub kebanggaannya?

Jauh sebelum kontra Madura, para pendukung bergantian memberikan kritik pada klub di media sosial. Hari ini kelompok sini, hari besok kelompok sana. Satu per satu kepercayaan pada jajaran manajemen dan pelatih rontok menunggu giliran. Protes-protes timbul tenggelam dalam skala harian, dalam lukisan, dalam tulisan, dalam obrolan. Sayangnya, apa-apa saja yang keluar tidak menemui tanggapan dari direksi klub. Media ofisial berubah menjadi akun yang mengunggah konten terjadwal. Lini masa berubah layaknya tembok yang penuh coretan vandal. Kalimat itu, kalimat ini, protes tentang ini, kritik tentang itu. Bagi saya, poster-poster yang sekarang tertempel di jalanan pasca melawan Madura adalah reaksi yang serupa dengan kemarahan-kemarahan di lini masa. Para pendukung menjadi terbiasa bicara pada tembok seiring manajemen makin memperkuat aksi bisunya. Beruntung sekali, semakin klub menjauhkan diri, semakin berisik lini masa memberontak, semakin penuh tempelan gambar di tembok-tembok, sudut-sudut kota, dan gang-gang kecil; tempat PSS dipupuk dan dikumandangkan bangga setengah mati.

Kalimat-kalimat skeptis muncul 2-3 kali seperti ujar Dejan membual bahwa kemarahan sampai malam ini adalah tindakan sia-sia. Tidak bagi saya. Sudah sejak lama ditanamkan di tribun selatan bahwa apapun yang bisa dilakukan untuk klub, maka lakukan segera. Perihal poster dan umpatan-umpatan adalah bagian di dalamnya. Siapa yang bisa menggambar, memberikan gambarnya. Siapa yang punya waktu, meluangkan waktunya. Siapa bisa bikin apa, itu yang diberikan untuk Super Elang Jawa. Sambil berharap, nasib baik datang tiba-tiba. Bahwa tempel poster adalah hal yang mubazir, manusia tidak akan pernah tau apakah yang ia perjuangkan menemui jawaban, kecuali ia bertahan pada apa yang ia percaya. Saya mengamini itu. Jika suatu saat saya sampai pada keputusan bahwa menempel poster, membuat lagu, mementaskan drama, menulis puisi untuk Super Elang Jawa adalah hal yang sia-sia, saya tidak pernah merasa merugi sebab saya sudah mengupayakan apa yang saya bisa. Dengan keyakinan penuh, saya rasa kawan-kawan saya di barisan juga mempercayai hal yang sama. Toh, seperti kita yang berjingkrak, bernyanyi dan berteriak sepanjang pertandingan, kita belum akan tau hasil pertandingannya sebelum pertandingan benar-benar berakhir.

Tagar usiran untuk Dejan menjadi obrolan puncak di lini masa dalam beberapa hari terakhir dan klub sepertinya gerah. Kolom komentar disaring untuk tidak memunculkan #dejanout di akun ofisial. Tutup mata tutup telinga, masihkah saya seorang pemuja? Saya tak ambil peduli, saya sudah mencintai Super Elang Jawa sebelum orang-orang baru datang dan berjoget seenaknya di meja kerja mereka. Saya seorang pemuja dan akan begitu seterusnya. Jika klub berubah tuli maka akan saya nyanyikan dan teriakkan lebih lantang, lebih keras. Jika klub berubah buta maka akan saya tempel lebih banyak poster, akan saya pajang lebih banyak gambar. Dan jika klub kukuh pada kebisuan, saya akan gedor rasa nyamannya sampai mereka angkat bicara dengan segala yang saya bisa. Sebab sepakbola ini bukan hanya milik mereka, sepakbola juga milik saya.

“Edelweiss, edelweiss, bless my homeland forever”

 

ditulis oleh: Tonggos Darurat

poster: 976stud