Warna Apa Dalam Dirimu?

Roses are red

Violets are blue

PSS is green

And so are you.

Sebuah provinsi kecil dengan setidaknya tiga klub sepakbola yang berlaga di dua kasta tertinggi sepakbola Indonesia membuat DIY tidak memiliki batas-batas yang jelas antar ketiga pendukungnya. Pendukung PSS bisa saja kamu temui di bagian Jogja kota, atau sebaliknya pendukung PSIM bisa kamu jumpai di jalan-jalan sempit di Sleman, atau lebih jauh lagi ketika kamu tau seorang pendukung PSS berangkat jauh dari rumahnya di tepi pantai di Bantul sana. Para pemain dan pelatihnya juga saling silang membela klub yang bertetangga sejak jaman M. Iksan, Seto Nurdiyantoro, Slamet Nurcahyo, Topas Pamungkas, hingga El Loco Gonzales. Sudah jadi barang biasa, lumrah layaknya lulusan SMP Pakem akhirnya berlabuh SMA di Padmanaba. Daerah Istimewa ini daerah yang sempit. Teman-teman sekolah bahkan bisa mendukung klub sepakbola yang berbeda-beda.

Sama seperti di teman-teman komunitas hobby yang bercecer di Yogyakarta, sudah barang tentu sebenarnya saling diam-diam beda warna sepakbola. Saat sepakbola sedang absen macam hari ini, kamu sulit sekali membedakan siapa suporter klub yang mana di sini. Semua suporter sudah bersepatu dan berpakaian sama rapih ketika mendukung klub sepakbolanya. Pernah pada satu pertandingan derby dulu sekali melawan Persiba, aku berteriak “Bantul Merda” sok Itali. Seorang kawan di sebelah menengok padaku dalam gurau, “lha aku pie?” Kontan kami tersenyum bareng, agak kecut di aku karena baru menyadari bahwa football banter bawa nama daerah tidak akan bisa relevan di Yogyakarta.

PSS Sleman pernah bermarkas di Mandala Krida dan PSIM pernah bermarkas di Stadion Sultan Agung. Dua hal ini membuat semuanya jadi tambah kabur. Identitas bahwa kita sebagai seorang suporter sebuah klub sepakbola benar-benar hanya bisa terlihat ketika matchday. Apakah kita sedang berdiri bersama hari itu? Bernyanyi sampai serak di tempo dan jeda yang sama? Karena batasan geografis dalam sepakbola sudah tidak lagi bisa ditarik garis, apalagi dengan banyak pula suporter Superelja dari luar kota yang rajin datang di pertandingan. Warna apa dalam dirimu hanya terlihat olehmu sendiri di hari-hari biasa. Manusia berpergian setiap waktu, tapi berhenti di mana hati dan pikiranmu saat PSS berlaga? Kalau sama denganku berarti warna kita serupa.

Tonggos,

Mei 2020