poster oleh: 976stud

Doa yang Panjang dan yang Pendek

Sementara sepakbola terus dibicarakan di sebulat-bulatnya bumi, saya beristirahat pada satu perhentian setelah semusim PSS Sleman yang penuh berkobar. Keributan perihal pemain, pelatih, dan manajemen bisa dibaca di tulisan-tulisan manapun sepanjang musim lalu, bahkan di status whatsapp teman-teman dekat -satu fitur teknologi yang paling jarang dilirik manusia modern. Para pendukung PSS Sleman gencar melontarkan pendapat tentang apapun, entah kritik, amarah, kekhawatiran, ketakutan, harapan, dalam doa-doa panjang maupun pendek supaya klub sepakbolanya bisa kembali menjadi pegangan hidup yang semestinya. Pertandingan-pertandingan yang tersisa di tabel jadwal seakan jadi ranjau yang bisa meledak sewaktu-sewaktu jika PSS Sleman melangkah di tapak yang salah. Tentu saja, para pendukung tak pernah ingin itu terjadi.

Melihat para pendukung mengambil alih jalan raya sebagai tempat mereka bernyanyi dan melontarkan harapan di api yang menyala dalam perumpamaan sekeping uang logam selalu menarik buat saya. Di satu sisi, saya terlibat dalam barisan yang sama dan merasakan hasrat yang sama dengan para sejajar untuk turun ke jalan sewaktu-waktu. Saya mengerti mengapa saya terjebak di dalamnya hingga hari-hari berganti, Segala argumen-argumen pembenaran kami kuasai betul sebab katalisnya sama bagi kami semua: tak ingin PSS Sleman terperosok dan kehilangan jati dirinya di musim yang berantakan sejak peluit pertama. Namun tenggorokan saya tersedak saat memikirkan sisi lain keping uang logam, di balik semua hingar dan bingar musim lalu. Melihat dari kacamata yang lain, para pendukung PSS Sleman mudah sekali dibaca sebagai kumpulan manusia yang terlalu gemar menggerutu, tidak mudah percaya, dan mudah sekali disulut api. Predikat “tukang protes” disematkan begitu saja sekalipun bukan hal baru yang mengagetkan.

Bukan hanya bombardir pendapat dilontarkan satu arah begitu saja dari suporter pada klubnya, di dalam barisan tribun sendiri saling tidak setuju terus begulir tiap saat di wadah yang mana saja sampai hari ini. Tidak ada aturan yang baku dalam sepakbola saat membicarakan hal-hal di luar lapangan hijau. Segala aturan yang tertulis hanya panduan bapak wasit tentang jalannya pertandingan. Sementara, bagaimana manajemen mengelola klub, atau bagaimana pemain berinteraksi di sosial media, atau bagaimana suporter harus bertindak di situasi tertentu tidak pernah punya hukumnya yang sah. Maka wajar saja jika semua orang berpegang pada pendapat mana yang ia anggap benar. Sekaligus, tidak ada yang bisa menghakimi pendapat mana yang keliru. “Banyak orang banyak kepala” dan biarkan saja begitu.

Di musim-musim sebelumnya, sebenarnya para pendukung PSS Sleman juga protestan yang ulung, sama dan tak beda dengan musim yang baru saja kelar. Pembedanya adalah pada satu hari semua orang sepakat untuk tidak dulu membawa perbedaan dan memilih untuk menyanyikan lagu-lagu yang sama di dua babak sepakbola. Walau singkat, kita semua punya waktu untuk berhenti adu opini saat Superelja berusaha mengalahkan lawannya. Sementara musim kemarin, tak ada jeda yang sama saat sepakbola hanya bisa ditonton di layar kaca. Sepakbola tidak mampir sama sekali dan pendapat dari sisi manapun terasa seperti di gas tanpa rem. Para pendukung sepakbola tidak bisa dipisahkan dari sepakbolanya, sebab semakin jauh terpisah yang terdengar hanya gerutu. Sebaliknya, semakin dekat sepakbola dengan pengikutnya, semakin riuh dukungan di pekak telinga.

Akhirnya, sejauh kamu memiliki para pendukung yang setia, PSS Sleman, mungkin musim kemarin adalah saat kamu menyadari betul bahwa suporter adalah orang-orang yang betul-betul berisik. Kami mendukung dengan berisik, mendoakanmu dengan berisik, marah padamu dengan berisik. Kami mungkin akan selalu begitu.

Selamat hari jadi. Doa kami selalu baik. Baik yang panjang maupun yang pendek.

Oleh: Tonggos Darurat

 

Note: Tulisan ini juga dimuat di zine terbaru 976xdibataspagar

Kalian bisa unduh di sini: Zine Vol. V 976xdibataspagar