Hidup dan Mati dan Selamat Jalan

Sumpah-serapah mengalir di kepala begitu pagar rumah kututup. Sebelumnya, istriku memberi ijin padaku untuk berangkat menitipkan doa di rumah duka, dengan catatan anak kami sudah lelap di tidurnya. Pukul 9 malam sebenarnya bukan jam yang sepi-sepi amat untuk daerah Babarsari, lampu-lampu pertokoan masih terang, merayu orang-orang lewat untuk mampir membeli apa saja, driver-driver ojol juga masih giat menunggu orderan di tepi jalan. Sebab memang begitu seharusnya Babarsari di malam hari, masih sibuk, masih bergerak, dan masih hidup.

***

Sepuluh hari yang lalu, PSS Sleman menjalani pertandingan pertama liga Indonesia tahun 2022/23. Istriku sudah sibuk mengolah menu makanan kami sebulan ke depan agar cukup untuk berlangganan layanan streaming sepakbola sejak siang. Anak kami baru berusia 2 bulan dan membawanya ke stadion pasti menuai marah dari dua pihak eyang-eyangnya. Maka dengan bijak kami memutuskan menonton di rumah sambil bergantian menggendong jika si kecil bosan berbaring.

Kebetulan rumah kami hanya berjarak sebatang gudang garam (yang filter, bukan yang kretek) dari Stadion Maguwoharjo. Rombongan pendukung sudah lewat depan rumah kami sejak hari mulai gelap. Anak kami tampak gelisah, maka ketika ibunya mengutak-atik televisi bersiap menonton, aku menggendongnya keluar. Ia melongo saja melihat orang-orang dalam barisan motor yang rapat mengibarkàn bendera dan syal-syal hitam-putih-hijau. Aku sendiri, menahan keinginan untuk berangkat rapat-rapat. Belum waktunya, kataku. Untukku sendiri.

Lepas rombongan habis, anakku mulai tenang. Matanya mengisyaratkan kantuk. Kubawa ia masuk rumah dan ibunya telah siap dengan siaran televisi. Aku menaruh anakku di kasur. Aku dan istriku masuk di sihir pertandingan. Mata kami terkunci di layar kaca, sesekali geregetan karena bola yang susah masuk gawang Makassar. Tiba waktu, gol kedua masuk ke gawang PSS Sleman. Istri mulai berubah moodnya. Kulirik anak kami, matanya gagal terkatup. Ternyata ia mengamati kami dan layar tv sejak tadi. Wajahnya tersenyum walau ibunya mulai mrengut.

“masih ada waktu ya nak, buat balas gol?”

“aaauuaaa” jawab anakku.

Kuanggap itu artinya iya dan kuanggukkan kepala pada anakku.

Pertandingan berakhir kalah di kandang pada partai pertama liga tahun ini. Paruh kedua hanya memberikan 1 kesempatan bagi PSS Sleman melesakkan gol. Sekalipun banyak peluang mengejar angka, ternyata yang dihitung di sepakbola adalah jumlah bola yang masuk gawang. Tentang upaya-upaya yang gagal, harapan-harapan yang ngglimpang, dan doa-doa yang meleset, tidak pernah dihitung dalam tabel statistik pertandingan. Perihal keinginan-keinginan hanya hidup di tribun dan di mana pun para pendukung menyaksikan laga. Semangat-semangat yang dilantunkan dalam tabuhan perkusi seperti percik-percik api yang siap meledak. Tiap gol adalah dentuman-dentuman ledakan itu.

***

“Alhamdulillah!” kataku spontan (bukan uhuy).

Istriku menjejakkan kakinya tepat di lambungku sebelah kiri. Matanya melotot saat kutoleh. Anak kami tertidur dalam pelukannya saat PSS Sleman menyamakan kedudukan di pertandingan kedua liga kontra RANS (bogor atau mana sih?). Beruntung ia tetap tertidur walaupun tadi sempat ngolet sebentar waktu bapaknya selebrasi. Aku dan istri melanjutkan menonton sampai laga habis dalam bisik-bisik. Menyanyikan lagu-lagu yang dulu biasa kami lantunkan sambil mendesis. Kubisikkan di telinga anakku sebelum mencium pipi ibunya, “PSS Sleman Super Elang Jawa”.

Seorang suporter bola kecil telah lahir, batinku.

***

Babarsari yang lengang adalah Babarsari yang asing buatku. Setelah mengecek peta di handphone sekali lagi, aku berbelok ke timur. Gang gelap yang kuhadapi. Di ujung jalan, motor-motor sudah terparkir rapi dan orang-orang berkerumun dalam kostum serba hitam. Jaket hitam, kaos hitam, kemeja hitam. Aku ikut memarkir motor dan bergabung bersama mereka. Orang-orang berbisik-bisik dalam gerombol-gerombol kecil. Kusadari, perasaan semua orang warnanya kelabu.

Hidup dan mati sebenarnya adalah catatan harian yang biasa, sayangnya kepergian selalu menjadi kabar paling akhir yang ingin diterima manusia. Sama seperti yang lainnya, malam ini aku menitipkan doa. Sekalipun kamu sudah tidak di sini, kamu tetap akan menjadi bagian dari kami semua yang terus sibuk, terus bergerak, dan terus hidup-menghidupi.

Sumpah-serapah sepanjang jalan tadi kutelan dalam keikhlasan mengantarkanmu pagi hari. Tri Fajar Firmansyah, selamat jalan.

Al-Fatihah

oleh: Tonggos Darurat