Gerilya

Api menjalar jauh lebih cepat dari angin gunung. Selepas rentetan hasil buruk yang didapat tim kami, ketidakpuasan pada pengurus klub, juga kemarahan yang disulut ucapan CEO klub. Fans kemudian bereaksi, secara langsung maupun platform media sosial. Nyatanya, menabuh genderang perang tak melulu harus menggunakan lecutan senjata, atau pengumuman mikrofon dan disiarkan di layar kaca. Satu minggu terakhir, lereng gunung Merapi yang biasa santai menjadi kalut. Tanda pagar tak cuma di lini masa, dicetak, ditempel di tembok-tembok sudut kabupaten. Tuntutan yang didesak adalah Dejan segera dipecat.

Omah PSS yang mula-mula dibikin sebagai tempat jajan dan bersantai fans, berbalik menjadi tujuan kemarahan orang-orang. Berbondong-bondong Sleman Fans menuju kesana, menyuarakan tuntutan demi tuntutan. Berteriak atas kegelisahan seiring hasil buruk tim di kompetisi.

Marco, selaku CEO PT. PSS tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ditunggu. Yang terucap cuma kata-kata yang ia putar, dan kosong. Jawaban yang tak kunjung memuaskan sebenarnya menjadi bumerang sendiri untuknya, sebab asumsi liar yang muncul menjadi semakin banyak dan tak terbendung. Namun, lagi-lagi jalan yang ia pilih berlawanan dengan apa yang kami perjuangkan selama ini. Dalam sambungan telepon, malam itu dengan keberaniannya ia katakan “Dejan bisa out tapi PSS kita pindah home base.”

Entah sadar atau tidak, disengaja atau tidak, yang ia ucap terlalu menyakiti bagi kami. Bagi banyak orang, PSS sudah terlanjur dimaknai tidak sekadar sebuahn tim sepak bola saja. PSS adalah teman hidup yang selalu dibanggakan orang-orang kabupaten ini. Bertahun-tahun tak berhenti mendukung tanpa minta timbal balik apapun dari klub. Obrolan tentang PSS menjadi pencerita di sela beban hidup yang kian tak tertanggungkan. Meski meminta maaf, ucapan yang sudah keluar susah untuk dilupakan teman-teman Sleman Fans. Sekaligus menegaskan dan bersiap-siap jika ternyata tim ini mesti tetap dilihat arah berjalannya. Supaya jika berbelok ke arah yang salah, fans dapat menuntun ke jalan yang lebih terang.

Kekalahan sebetulnya bisa dimaafkan oleh Sleman Fans, tentu saja dengan catatan apa yang ditunjukkan di lapangan adalah tim terlihat benar-benar berjuang untuk hasil terbaik. Sebab kami mendukung tim ini pun tidak saat sedang di top performa saja.

Hari berganti dan kami berkumpul lagi. Berbondong-bondong menuju Bandung atas rentetan kekecewaan pada manajemen. Berkumpul kami di Stadion Sidolig. Keaadaan kalut dan sedikit pesimis. Hujan deras sejak siang sampai sore tak sedikit pun melunturkan niat kami untuk bertemu manajemen. Teras yang kotor dan rada becek karena air hujan. Kami ingin bertemu mereka di sini, supaya tahu beginilah tempat kami berdiri. Berharap membawa bekal jawaban untuk pulang ke Sleman.

Matahari berlalu hari itu, Marco CEO PT. PSS muncul. Munyeng, Kim dan Danilo turut datang menemui fans. Fans yang bukan tanpa bekal menyampaikan tuntutan pada manajemen. Tiga tagar turut digaungkan. Namun, lagi-lagi ia tetap merasa mampu untuk membawa tim ini terbang cemerlang. Seakan lupa atas berbagai hasil buruk yang didapat PSS sekarang. Tetap optimis dan percaya pada proses. Kata-katanya mulus nan pandai menata rima untuk meyakinkan kami lagi. Dan kami tak ada yang peduli, tak percaya lagi dan tetap menuntut apa yang sudah digaungkan.

Di depan, Pak Oul yang tinggal di tepi Kali Krasak paham betul cara menghadapi berbagai macam batu. Tali dan pasak ia gertak supaya batu dapat bergerak. Di hadapan CEO klub, dengan tenang ia jelaskan tanpa panjang lebar. Dejan harus segera dicopot, katanya yang kemudian turut kami semua lantangkan. “Kami tunggu paling lama hari Selasa!” tutupnya. Berbekal keputusan dengan tenggat waktu, kami melantunkan anthem sakral sebelum pulang.

Tak sekalipun kami pergi, bahkan saat tim ini berada di titik tersulit. Nama klub adalah udara sejuk yang menghidupi, sekaligus memberi nafas panjang untuk setiap langkah yang kami tuju. Percayalah, tembok, batu -sekuat apapun itu- tak sedikit pun membuat kami takut. Apa pun, ya apa pun yang mencoba merampas bagian hidup ini akan kami kejar. Di perjuangan hari ini, besok, dan seterusnya, dengan semangat yang berjuta kali lipat. Menuju pulang, teman-teman Over Distortion menulis riwayat perjuangan hari ini lewat tembang. Semakin menyalakan langgam hidup sepak bola di lereng Merapi.

 

Gerilya

song by: Over Distortion

Akulah yg membara
Jiwa besarnya cinta dan derita
Kibar bendera bumi sembada
Gelora bernyala wujud bencana

Akulah yg membara
Api perlawanan cinta dan derita
Kibar bendera bumi sembada
Gelora bernyala wujud bencana

Gerilya nafas-nafas perjuangan
Berlipat ganda
Melawan

 

Bandung, 3 Oktober 2021

Ditulis oleh: Carang & Pandhus