Jika PSS Seperti Bilbao

Kira-kira sejak benar-benar mencurahkan perasaan pada PSS Sleman, aku mulai memperhatikan banyak klub sepakbola entah di benua Eropa atau Asia. Walaupun tidak pernah ingat dengan seksama segala detil tentang banyak klub tapi kisah-kisah penting mereka beberapa nyantol di kepala. Seorang kakak tingkat di bangku kuliah sekaligus pendahulu di Ultras PSS, Fayzal namanya, pernah menveritakan sebuah dongen tentang Bilbao padaku sewaktu ia menulis skripsinya tentang sepakbola.

Cerita-cerita tentang Bilbao dan lekatnya suku bangsa Basque di dalam tim secara instant membuatku terpukau. La Liga dipenuhi perdebatan siapa yang terbaik antara Messi dan Ronaldo yang Cristiano, sementara banyak klub-klub lain kontestannya hilang cerita di tengah tabur bintang termasuk Bilbao. Klub yang tidak pernah juara La Liga sekaligus tidak pernah degradasi. Begitu cerita Fayzal yang berapi-api di pojok kampus kami yang teduh dulu.

Bilbao justru sangat ketat pada regulasi kontrak pemain mereka, bahwa setiap bagian dari tim harus berdarah Basque atau setidaknya menghabiskan banyak waktu di daerah mereka sebelum bergabung. Ini membuat seberapa banyak uang yang dimiliki klub tidak menjadikan mereka wira-wiri di bursa transfer karena bebas kontrak pemain ini dan itu yang juga sliweran di jobfair para pesepakbola. Aku lantas membayangkan bagaimana jika PSS -entah di dimensi paralel yang mana- memilih kebijakan yang sama seperti Bilbao. Para pesepakbola rekrutan adalah orang-orang yang berasal dari Sleman atau dalam waktu yang lama tinggal di Sleman. Tentu saja kita akan kehilangan banyak legenda asing macam Oyedepo, Deka, dan Marcelo. Atau Gastano dan Yevhen dan Adelmund. Tapi pikiran dan andai-andaiku tidak lepas dari teras stadion yang juga diisi orang-orang Sleman dan mereka yang menghabiskan banyak waktu di sini entah karena studi atau migrasi.

Kita pernah dalam beberapa waktu merasa ada beberapa pemain yang tidak benar-benar bermain sungguh-sungguh. Entah dalam satu pertandingan atau dalam seluruh musimnya bergabung bersama PSS. Kadang kita jengkel melihatnya bermain klemar-klemer tanpa semangat juang, tanpa mengimani bahwa PSS adalah bagian besar dalam hidup banyak orang sehingga mereka kita rasa cuek saja bermain seenaknya asal gajinya lancar ditransfer. Kejengkelan macam ini kurasa akan sangat berkurang kita dapati sebagai pendukung Bilbao. Karena pemain yang benar-benar menjiwai klubnya lebih mudah ditemui dengan kebijakan kontrak yang seketat itu. Aku sekali lagi terkesan pada Bilbao ketika beberapa waktu lalu membaca artikel tentang klub ini di New York Times, yang walaupun sedikit menjengkelkan karena sebutan soccer di tulisannya, isinya tidak semrawut menjelaskan bagaimana Bilbao bertahan di La Liga.

Klub dengan regulasi kontrak macam itu menyadari tidak akan banyak pemain bisa berseragam klub mereka, maka dari itu mereka membuat akademi sepakbola mereka sebaik mungkin, mencoba mengasah bakat putra daerah sedini mungkin sehingga di waktu yang tepat anak kecil yang berandai-andai jadi pemain bintang bisa membela klub mereka sendiri melawan raksasa-raksasa sepakbola macam Barcelona san Real Madrid. Sekarang bayangkan jika itu terjadi di Sleman, akademi yang baik untuk putra daerah dengan persiapan-persiapan profesional untuk berlaga di liga profesional. Jika hal macam ini benar-benar ada mungkin kita tidak pernah gusar dan sembarang tunjuk ketika pertandingan terasa janggal saat kita tertinggal angka “ah pemain ini kayaknya disuap”.

Bayangan dan pikiran buruk itu akan mudah sirna karena kita tau dan sadari bahwa setiap pemain benar-benar membawa PSS dalam hati mereka, bukan sekedar angka-angka dalam kontrak kerja, bukan hanya sekedar mampir di perjalanan karir, bukan sebagai batu loncatan untuk menuju ke klub yang lebih besar di musim berikutnya. PSS Sleman sudah sepatutnya menjadi tujuan akhir para pesepakbola. 

“Suatu saat secepatnya aku akan membela Superelja” kira-kira begitu dalam benak. Anak-anak akan berlatih dengan sungguh-sungguh karena ia tau akan menjadi bagian dari sejarah sepakbola tanah mereka, tanpa perlu ragu jika suatu saat tawaran kontrak besar datang pada ayahnya untuk bermain di klub lain. Jawabannya akan dengan tegas “TIDAK” karena mereka tumbuh dari PSS, oleh PSS, dan untuk PSS. Dengan begini lapangan hijau dan tribun akan selaras, bukan hanya para suporter yang bertaruh hidup, tapi juga para pemain di lapangan sana.

Misale.

Tonggos,

Juni 2020