Satu Angka Tiga Laga

disclaimer: Aku dan Pandhu, di subuh yang gerimis dan katanya Bandung diciptakan Tuhan ketika pendukung PSS mrengut.

***

Seusai laga, wajahnya enggan melihat sekeliling. Pada roman yang sedih, malam itu tampak ia jadikan permenungan. Kaus putihnya -seperti biasa- terlihat jadi paling cokelat di antara yang lain. Sepasang ujung tangannya menopang dagu sambil memandangi awan yang bergerombol di langit Bandung. Batata, juga kaki-kaki lain jelas paham bahwa satu angka dari tiga laga cukuplah memalukan. Beberapa saat selepas permenungan itu, Munyeng menghampirinya; dengan dada tegap dan gestur yang tabah, ia coba menguatkan rekan-rekannya, sekaligus dirinya sendiri. 

***

“Adakah yang lebih jelek dari ini?”

“Memang bangsat. Tapi, jelek-jelek begini rumah sendiri”

Jauh dari Bandung tahun ini adalah yang ketiga ketika poin penuh gagal diraih. Pertandingan pembuka di Ujung Pandang keok, di rumah sendiri kontra Bogor kebingungan, dan Pasundan malam itu menyajikan bagaimana patahnya serangan bola-bali sekalipun diupayakan dalam jatuh bangun. Kami sebagaimana manusia yang tumbuh dari tribun selatan memendam kerinduan yang lebih-lebih lagi tiap pertandingan usai digelar tanpa kemenangan sementara hadir adalah kata yang masih jauh terwujud.

Di rumah sendiri, kami melihat wajah-wajah gusar melekat di raut penyuka Superelja. Geram, geram sekali atas apa yang sudah terjadi sejak peluit pertama tahun ini belum disemprit. Para penyandang kebijakan tim lebih keras kepala tinimbang kepala setan. Lebih dari kata buruk jika melihat persiapan tim ini. Mula-mula dari pelatih kepala yang copot-ganti, Keluar-masuk pemain yang kaotik, bahkan skuat musim ini dirilis via media online tanpa perayaan. Sebetulnya ini cuma gerutu kecil tapi semakin hari keadaan belum juga menunjukkan terangnya. Betapapun hari-hari murung ini masih berjalan, awan mendung masih bercokol di masing-masing kepala suporter yang dengan sabar mengunci mulut mereka sementara layar-layar ponsel dan komputer menggelar pertandingan.

Satu poin, satu-satunya poin yang kita miliki hari ini dalam pekan ketiga liga tidak terjadi karena urusan taktis belaka. Biar kuungkapkan padamu:

Rasa kesal dan sesal bergantian mampir dalam benak mengingat hal-hal buruk bermula sejak Seto tidak diperpanjang hanya dalam satu kedipan malam. Diganti oleh arogansi pemilik lama yang ingin menebang akar terakhir kekuatan tandingannya dalam tubuh klub. Ia menyingkirkan semua yang mencoba tak sepaham dan meraba apakah bisa menguasai klub ini sebisanya. Mencopot pelatih kepala dan mengganti sesukanya, diimani oleh CEO yang gagal kerja, dengan bisikan dukungan dari pelatih kiper yang jadi benalu di tim sekian lama. Mereka pikir mudah menjadikan sepakbola dalam satu genggaman kuasa, sementara banyak orang merasa memiliki klub ini. Satu malam yang sungguh gelap itu segera disusul pagi penuh gelegar, pencopotan pelatih kepala ini tidak ditanggapi oleh riak air yang tenang. Orang-orang meledak kepalanya, kaget dan marah. Lalu sampailah kita pada hari ini, pada cinta yang dirayakan dari jauh dalam hati. Bisa apa kita selain mendoakan badai cepat berlalu? 

Pemilik hari ini telah berganti dengan tubuh-tubuh kebijakan tim yang baru, yang kita semua juga belum tau akan sehebat apa mereka mempertahankan harga diri Superelja setelah porak-poranda lalu. Halaman kita kosong karena mungkin kali ini adalah waktunya menulis sejarah baru. Kita bisa saja takut dan cemas apakah tim ini dapat kembali merajai angkasa tempatnya terbang atau malah loyo bertengger di bawah sampai akhir musim liga. Setidaknya halaman kosong yang baru ini lebih baik terjadi timbang membiarkan kebobrokan lama menjadi sarang yang nyaman -yang jika kita diam saja maka tak sadar akan membusuk dalam rumah sendiri-.

Tentu saja doa terus berlanjut dalam novena dan dzikir kita melewati hari bahwa secepatnya tembok pemisah akan runtuh dan pertemuan akan terjadi dalam cinta yang mewujud sempurna. Toh selama ini keikhlasan kita dalam tahun-tahun berjuang tidak pernah teringkari, maka keikhlasan tahun ini juga pasti akan terbayar. Cepat atau lambat. Dulu dunia tidak pernah menyangka bahwa Barat dan Timur Berlin akhirnya akan bersanding jadi satu, begitu pula kita dan PSS akan merayakan itu.

(Tonggos & Pandhus/Maret 2020)