Keruwetan dalam Delapan dan Seterusnya

Disclaimer: tulisan ini awalnya disubmit ke Sleman Football dalam rangka memeriahkan keriangan #slemanfansmenulis. Atas beberapa baris obrolan akhirnya diunggah saya pribadi di medium non-komersil saya sendiri karena tidak jauh dari koreo delapan sewaktu PSS kontra Persija. Semoga masih ada yang bisa kita pelajari. 

Keruwetan mungkin adalah kata yang tepat untuk mengawali tulisan ini. PS Sleman memulai liga 1 tidak senyaman klub-klub lain pesaingnya dengan modal belanja pemain yang terbilang kecil. Beberapa musim terakhir di liga 2 dilewati PS Sleman dengan jor-joran belanja pemain karena tekad yang kuat untuk naik kasta dan desakan yang rajin dari elemen suporter. Terbiasa dengan jajaran pemain top kasta 2 sudah barang tentu terbawa setelah pesta juara. Laga kandang yang dulu merupakan zona nyaman mungkin tidak akan lagi dipijak oleh para suporter di liga 1, dengan belanja pemain yang minim dan “cukup” untuk jatuh bangun semusim. Klub ini bisa saja terpeleset sewaktu-waktu di laga manapun, kandang sekalipun, dan inilah ketakutan yang terus saja menghantui semua orang yang masih cinta dan bertahan. Sejak kepergian Paman Parji, PS Sleman seperti kehilangan sosok yang begitu gila sepakbola di jajaran petinggi, yang rela mengorbankan hidupnya dalam porsi yang besar. PT. PSS dan Manajemen banyak menuai protes dari elemen suporter dan akar rumput karena dinilai lambat mengambil sikap dan mengantisipasi jalannya liga 1 yang keras. Internal tubuh PS Sleman seperti stang motor, tampak keras tapi bolong, tetap melaju dengan asa yang kosong. Bukan rahasia jika PS Sleman tidak sedang baik-baik saja.

Keruwetan segera disusul kekhawatiran dengan hasil pertandingan kandang yang jelas buruk. Tidak pernah senyaman liga 2, Maguwoharjo tidak menjanjikan kemenangan di separuh musim. Sempat menggebrak dengan kemenangan partai pembuka melawan Arema ternyata tidak cukup, partai-partai kandang lainnya menyisakan hasil imbang dan kalah. Tercatat hanya ada 2 laga menang di kandang setelahnya saat menjamu Persebaya dan PSM, itupun dilalui dengan genting. Beruntung PS Sleman tampil apik di beberapa partai tandang demi menutup defisit poin aman untuk bertahan di liga 1 musim depan. Peluit akhir tidak lagi sarat akan pesta yang meriah sekalipun coach Seto sudah meramu komposisi pemain dengan susah payah. Seakan semua beban jatuh ke tangannya, sepakbola Sleman bersender pada kata “semoga” pekan demi pekan.

Keruwetan finansial dirasakan sangat pahit seiring berjalannya liga, kabar burung mengenai bonus pemain sampai di telinga para pendukungnya. Untung saja, suporter PS Sleman bukan kumpulan yang tabiatnya hanya menggugat. Diprakarsai Brigata Curva Sud, aksi #bonusbosku dimulai dan dengan segera terkumpul sekian ratus juta untuk para pemain. Sekalipun diserahkan pasca hasil imbang di kandang, dampaknya sangat terasa setidaknya untuk saya. Di pekan berikutnya melawan PSM, ada motivasi lebih untuk meraih poin 3 sekalipun babak awal ditutup dengan defisit 2 angka. Banyak orang terkejut dengan daya juang di 45 menit kedua, membalikkan skor menjadi 3-2. Seolah mustahil, karena PSM baru saja menjuarai Piala Indonesia. Jika ada 1 hal yang wajib diingat selama paruh musim ini, tentu saja adalah selebrasi jaranan khas Yudho dan seisi tribun yang merayakannya dengan rasa haru.

Keruwetan nampaknya belum akan terurai sampai peluit akhir paruh musim, disambut keharusan-keharusan untuk menambal kelemahan tiap lini dalam tim. Suporter bukan dalam bagian untuk mengurainya dengan mudah kecuali tetap dengan keras kepala bertahan, tetap memberikan dukungan yang tidak surut sedikitpun, tidak satu jengkalpun mundur. Beban yang berat tidak dapat ditopang satu pihak saja, tidak dengan menyerahkannya pada jajaran petinggi, tidak hanya pada ramuan coach Seto, tidak bergantung pada olah kaki Brian maupun Yevhen, tidak pada satu nama pemain. Sisa musim paling mungkin diselesaikan dengan rasa percaya; pada pengelola supaya bekerja sebagaimana mestinya, pada pelatih dan pemain agar memberikan seluruh kekuatannya di lapangan hijau, pada para pendukung untuk tetap setia lantang bernyanyi. Mengingat PS Sleman dapat mencuri beberapa poin di laga tandang dan membalik keadaan kontra PSM, nampaknya kita semua masih memiliki harapan. Seperti kata orang dulu, jika sudah tidak punya harapan, kita tidak punya apa-apa lagi. 

 

(Tonggos/Oktober 2019)