Kebenaran Yang Mesti Diwartakan

Televisi dan media arus utama kerap hanya menampilkan apa yang mereka anggap penting dan menguntungkan. Selain cari untung mereka juga cari aman. Narayana Mahendra (2016) dalam jurnal yang berjudul “Menolong Klub, Mengecam Suporter, Menjaga Pasar” menjelaskan bagaimana kecenderungan media dalam membingkai suatu peristiwa yang berkaitan dengan suporter sepakbola.

Dari risetnya dapat disimpulkan bahwa, media gemar mencari aman terhadap klub sebagai sumber informasi utama mereka dan menyalahkan suporter dalam bingkai kerusuhan. Terkadang, media yang jelek masih sempat menambahkan judul ‘anarkis’ ketika mewartakan kerusuhan. Sehingga mengaburkan makna anarkisme dan bikin orang jadi sesat pikir lagi gagal paham dengan istilah tersebut.

Kita tahu berita olahraga khususnya sepakbola adalah salah satu komoditas utama media. Berita seputar olahraga saban hari berserakan di lini masa dan kabar seputar sepakbola termasuk yang paling sering jadi ‘trending topic’ karena punya penggemar sejagad.

Tidak ada salahnya kita mengerti, bahwa dalam proses produksi suatu berita, fakta yang sama dapat dihidangkan tak serupa oleh media yang berbeda. Itulah bingkai, atau mungkin kita lebih akrab mengenalnya dengan istilah ‘framing’. Nah, bingkai ini dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama politik redaksi media.

Lantas, apa yang tidak dikatakan media kemungkinan besar dianggap tidak menguntungkan atau berbahaya bagi relasi ekonomi politiknya. Jika toh muncul, kita bisa cek dari ‘headline’ berita yang ditampilkan. Dari situ keberpihakan media bisa kita ukur. Sebab tidak ada media yang netral. Misalnya dari laga PSS Sleman kemarin.

Kita bisa cek media mana yang hanya memberitakan kemenangan PSS atas Borneo FC dan media mana yang berani mengungkap kabar bahwa Bagus Munyeng, kapten PSS Sleman tidak dibawa dalam skuat melawan Borneo FC kemarin tanpa alasan yang jelas dari klub. Plus, mengaitkan kabar tersebut masalah berlarut yang tak kunjung usai dalam PSS.

Dalam hal ini kita patut bersyukur, sebab ada akun seperti @IniSleman yang rutin meretweet berita dari media mainstream yang berkaitan dengan PSS Sleman. Pun sejauh ini @mojokdotco dalam artikelnya terkait PSS, cukup menampakkan keberpihakan yang jelas terhadap suporter. Saya rasa keduanya patut diberi apresiasi. Sebab banyak media lain yang masih “penak nyimak, ora resiko” alias cari aman.

Ironi berkepanjangan, PSS Sleman masih tak jua berpulang. Meraih poin penuh karena menang melawan Borneo FC, dirayakan (atau bahkan tidak) dengan alasan yang sangat wajar. Lagipula hari lagamu kini tak berpangku tagar. #PSSday belakangan hilang.

Barangkali, karena kini tiada hari tanpa memikirkan dan membicarakan PSS. Setiap hari merayakan kegelisahan. Meramu getir dan mengkhayalkan keterasingan sebab klub sepak bola kabupaten ini kian menjauh dari pelukan.

Para congkak parasit pembual itu selalu merasa mampu. Mereka tidak punya keberanian untuk kalah. Mereka tidak cukup jernih jalan pikirnya untuk mengakui kesalahan. Apapun itu, siapapun mereka mesti dilawan sehormat-hormatnya.

Setiap dari kita adalah nyala api, setiap kabar adalah bahan bakar itu sendiri. Maka sampaikanlah PSS walau satu ayat.

 

ditulis oleh: Alif Madani