Kompetisi, Arti Berjuang dalam Sepak Bola

Setelah sukses meraup cuan dari gelaran turnamen sebelum tiba Ramadan, federasi rencananya bakal meniup peluit dimulainya liga musim 2021 bulan Juli mendatang. Akibat pandemi virus yang makin menjadi dan tak kunjung reda, perhelatan bola tanah air juga turut tiarap cukup lama. Negara yang menangani pandemi awur-awuran, dana yang dikorupsi, warga asing yang terus banjir di pintu-pintu masuk tanah air, lagi-lagi bikin sepak bola tanah air tertinggal dari negara-negara tetangga yang sudah lebih dulu memulai kompetisi.

Belum lama, beruntunglah, penikmat bola masih tetap bisa melihat tim lokal kesukaan bertanding lagi. Meski dengan normal yang baru, tanpa penonton. Sepak bola yang biasanya penuh euforia di sepanjang tribun, kini masih harus bersabar dengan menonton di depan layar.

Sehabis gelaran turnamen, masing-masing klub tampak sudah menatap kompetisi musim ini. Pemain diliburkan menjelang hari raya lebaran, namun geliat media sosial masing-masing klub peserta aktif mencuitkan kabar teranyar. Awal minggu bulan Mei, rilislah pernyataan federasi bakal menggelar kompetisi musim 2021 tanpa ada degradasi. Dalam pernyataannya juga ditulis bahwa akan ada dua jatah promosi dari Liga 2, artinya musim depan bakal ada 20 kontestan di kasta tertinggi Liga Indonesia. Tuan ketua federasi juga menyatakan bahwa kompetisi musim ini bakal menggunakan format bubble to bubble dan dipusatkan di Pulau Jawa.

Kabarnya, kompetisi tanpa degradasi diusulkan oleh beberapa klub karena faktor ekonomi dampak pandemi covid. Ada yang setuju ada juga kubu yang menolak, sampai tulisan ini dibikin beberapa klub sudah merilis penolakan tegas pada keputusan kompetisi tanpa degradasi. Borneo, Persib, Persipura, dan Madura tegas menolak. Warganet berada di barisan yang menolak dengan menggemakan hastag #TolakKompetisiTanpaDegradasi.

Sejatinya kompetisi adalah perjuangan, nilai-nilai olahraga menjadi marwah di dalamnya. Ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang bersinar, ada yang tenggelam menjadi sebuah kepastian. Sebuah klub bisa dibilang profesional ketika dapat merampungkan satu musim kompetisi dengan lancar dan tanpa kendala entah gaji pemain atau masalah finansial lain. Ketika beberapa klub terkendala ekonomi untuk menatap musim ini, padahal masih ada beberapa opsi misalkan mengurangi pemain asing supaya ada penghematan dana, menggaet sponsor untuk memenuhi feed media sosial klub tersebut, dan tidak kemudian buru-buru memilih kompetisi tanpa degradasi.

Liga sudah jelas bakal digelar tanpa fan, suporter, penonton. Sudah begitu diusulkan tanpa degradasi yang pasti rawan match fixing. Sepak bola lokal lagi-lagi berkubang pada mesin usang, sekadar hidup tanpa marwah. Jika kemudian tidak ada arti berjuang dalam sepak bola, kemudian pertandingan digelar untuk apa dan untuk siapa? Bukankah lebih baik kompetisi tanpa federasi daripada tanpa degradasi?

(Pandhus)