Land of Hope and Glory

Jalan sepanjang pulang yang biasanya selalu ramai, belakangan menjadi berbeda. Menuju hari raya, lalu lalang tidak seperti yang kerap terjadi. Pada batas-batas daerah banyak pekerja luar kota yang hendak pulang dan dilarang, meskipun akhirnya petugas kewalahan dan banyak kendaraan lolos di penyekatan. Pulang, bagi banyak orang bisa berarti berbagai macam rupa dan makna, bertemu orang-orang terkasih, bersua dengan kawan lama, dan lain-lain dan sebagainya. Buatku yang gandrung pada olahraga kulit bundar, sepak bola menjadi salah satu tempat saat pulang. Meski kompetisi sedang padam, sepak bola tak cuma menyuguhkan babak pertama dan babak kedua. Kata salah seorang teman, ada babak ketiga pada sepak bola. Babak yang terjadi mengisi obrolan di warung-warung, di lingkaran diskusi, dan masih banyak lagi.

Sehari setelah sampai rumah, aku ingat dulu setiap pagi jendela ruang kamar ini dibuka, membiarkan cahaya jernih masuk. Kadang melayang segumpal kapuk yang melayang sendiri tanpa tiupan atau hembusan yang menghendakinya terbang. Di atas meja kecil, menumpuk banyak cetakan berita sepak bola yang lumayan berbedu. Ada cetakan berwarna gambar Joice Sorongan dengan jersi penjaga gawang oranye-hitam yang kerap kusamakan dengan jubah kaisar.

Tiga jam setelah waktu berbuka puasa, aku berjanjian dengan seorang teman yang gemar baca-tulis dan kami berjumpa di warung kopi biasanya. Tempat yang selalu jadi jujukan saat di kampong halaman, obrolan tentang sepak bola dan apa saja bahkan tak habis meski hari berganti. Ia adalah salah satu anggota kelas penulisan semester pendek. Semangat kelompok menulis kolektif yang sedang matang-matangnya kemudian coba dimuarakan pada kumpulan tulisan buat ulang tahun PSS. Tulisan yang dibikin juga nantinya bakal dikolaborasikan dengan ilustrasi oleh teman-teman 976 studio.

Dua hari kemudian, teman dari elja radio mengirim pesan dan menawarkan untuk saling support acara. Nantinya, teman-teman elja radio dan band kompilasi PSS juga bakal bikin virtual gigs pada hari jadi PSS ke-45 tahun, 20 Mei mendatang.

Bertema “Land of Hope and Glory” referensi dari British patrotic song, musik dan lirik oleh Elgar dan A.C Benson yang rilis tahun 1901. Tema acara yang dirilis mencoba untuk menghadirkan isu tentang tanah air, harapan, dan kejayaan.

Mulanya, acara berjalan berkat royalti yang didapat dari digital music platform teman-teman band kompilasi dan menjelang ulang tahun PSS maka kemudian virtual gigs menjadi pilihan untuk merayakan.

Acara bakal diisi oleh band-band kompilasi dengan line up: Classy YoungFNB, Silhouette Sunrise, Dua BelasG-Vonny featuring Jatek, Over Distortion, dan Kubro Elektro. Teman-teman kompilasi juga secara langsung mencoba memberi kabar bahwa karya teman-teman di Sleman dalam bentuk apapun bisa menghasilkan sesuatu, dan yang teman-teman band lakukan ini kebetulan dari musik.

Selain virtual gigs, juga bakal ada talkshow pada beberapa sesi. Ada salah satu pendiri PSS, Sudarsono KH yang bakal bercerita bagaimana semangat kolektif masyarakat Sleman pada awal mula PSS dibentuk. Lalu ada Coach Guntur, Bagas Umar, dan Wahyu Sukarta yang sedikit banyak bakal membahas langkah pesepakbola asli Sleman di PSS. Bakal datang juga Kim Kurniawan yang akan bercerita persiapan tim jelang bergulirnya liga. Kemudian di sesi paling akhir teman-teman band kompilasi yang juga bakal mengisi talkshow.

Apa yang teman-teman lakukan adalah sebuah keinginan, supaya hal-hal baik buat sepak bola di Sleman dan iklimnya punya nafas yang panjang. Musik tentang PSS dan sepak bola yang selalu lahir musim ke musim, teman-teman penulisan yang dengan kolektif mendirikan kelas yang sekadar ingin memperkaya literasi sepak bola, atau karya teman-teman 976 studio dengan gambar dan pahatan tentang babak satu, dua, dan tiga sepak bola supaya tetap menyala. Sebab di atas segalanya, sepak bola harus bertahan.

(Pandhus)