Minggu Pertama Akhir Tahun [2]

Akhir pekan di mingggu pertama Desember adalah sesungguhnya Sleman di musim hujan dan wajah lain sepakbola yang agung. Langit mendung sejak siang hari itu, bahkan sejak hari sebelumnya waktu orang-orang ramai bicara tiket yang cepat habis. Wadah-wadah suporter bergerak cepat mengantisipasi pertandingan kontra Bandung; satu tim yang sudah lama dinanti laganya sama besarnya seperti Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang, Malang, dan Bali. Tim-tim ini punya alasan sendiri kenapa Sleman begitu antusias melawan mereka di 90 menit yang menegangkan, salah satunya adalah untuk menjawab apakah Sleman adalah penantang yang baik di liga 1 setelah kembalinya di panggung teratas yang begitu dirindukan. Tak heran, pesan berantai masuk begitu sibuk di cellphone para suporter mengordinisasi distribusi tiket yang barang tentu jadi rebutan. Antrian panjang berjejal di jalan kecil Delima Raya, menyesakkan lalu lintas dengan penuh antusias. 

Berbanding terbalik dengan laga kontra Badak Lampung di awal minggu yang serba terburu-buru, kontra melawan tim dengan nama besar selalu dipersiapkan dengan sungguh. Untukku sendiri juga begitu -sekalipun setiap laga adalah penting- ada rasa tersendiri setiap kali kami berkesempatan menghadapi mereka, ingin menunjukkan bahwa kami juga pantas berada di kasta ini dengan menghadapi si besar dengan gagah berani. Dalam kurin waktu satu minggu  Sleman punya dua wajah dukungan yang berbeda sekaligus sama, ia bisa mempersiapkan pesta rakyat seheboh ini sekaligus selalu siap untuk pesta yang tiba-tiba. Semuanya baik, semuanya sungguh Sleman.

Laga malam sungguh jarang terjadi untuk PS Sleman sepanjang laga kandang musim ini dan akhir pekan kali ini adalah hal yang barang tentu ditunggu. Kebetulan seperti ini datang sangat tepat di ujung tahun. Maka tak terlalu kaget kita semua saat hujan deras turun, tribun malah mulai melantangkan nyanyian. “Walau hujan deras ku ‘kan bersikeras..”

Tribun penuh dengan cepat khas laga kontra si besar. Padat dan berjejal dengan segera. Para pendahulu berdiri di depanku dekat, sebuah potongan scene yang melegakan bahwa mereka masih di sini sejak geliat ini bermula. Fariz dan Gobeer berderet dekat, Adityo di pagar depan, Galih di sisi kiri, dan angkatan sebayaku yang tersebar dalam beberapa lapisan tribun. Tercecer dalam anggur, satu dalam jamuan. Inilah sepakbola yang dirayakan para manusia. 

Aku sendiri tidak memperhatikan pertandingan, wajah-wajah beribu manusia di hadapanku lebih menarik untuk disapu pandangan. Dari sisi ke sisi, ujung ke ujung, melantangkan nyanyian yang lama dan yang baru. Hujan tak menyurutkan apapun, justru mereka berteriak lebih keras melawan dingin. Diam sama dengan membeku, maka hujan tak melulu bencana. Karenanyalah malam ini begitu hidup di tribun kami sekalipun pertandingan berlangsung tanpa gol. Bagaimana aku menuliskan keriuhan ini tanpa kalian mendengarnya?

Sulit rasanya percaya bahwa Sleman malam itu yang berjejal dalam sepakbola dimulai dengan segelintir manusia yang peduli untuk menghidupkan daripada sekadar mengutuk ketidakbisaan. Terangkum dalam tempo 7 hari, melawan Lampung adalah gambaran paling nyata bagaimana kegilaan ini semua berawal dan melawan Bandung di tengah hujan adalah buah kenekatan yang akhirnya dunia sadari. Seminggu yang padat ini adalah cerita pendek tentang bagaimana Tribun Selatan tumbuh. Ia lahir dari yang gila, dituai oleh yang tumbuh. Semoga selalu ditularkan begitu.

Tonggos,

Desember 2019