Seandainya Begitu

Berjubel di antara kerumunan orang yang mengantri tiket, lalu mencari celah supaya pandangan tidak ketutupan, lantas menikmati sepakbola dengan kacang rebus, atau arem-arem, atau tahu asin. Sepakbola diajarkan dan diwariskan di tribun dengan mengenalkan warna kebanggaan keluarga sejak kecil. Dengan cerita-cerita kehebatan mereka yang sedang membawa bola. Mata si anak nanar mengamati nomor punggung di lapangan hijau, menghafal dalam ingatan mereka mencocokkan nama dan nomornya. Merekam semua momen mengesankan dalam detik-detik yang lambat di ingatan sambil terkagum-kagum atas aksi mereka.

Sepulang dari stadion, setiap peristiwa akan diceritakan ulang dari mulut si anak yang masih terkesan dengan sepakbola yang megah, yang gawangnya bukan dari bambu atau tumpukan sandal jepit mereka. Begitu pula dengan di sekolah esok harinya, cerita yang sama akan diulang lagi dengan para sebaya, saling bertukar opini siapa pemain favorit mereka dan kenapa-kenapa yang mereka saling pahami. Kali berikutnya keluaga ini berangkat lagi, si anak sudah bisa memilih jajanan mana favoritnya, “aku arem-arem aja tahunya ga usah.” Lalu mulai berandai-andai jika besok ia menirukan aksi pemain di lapangan sewaktu jam pelajaran olahraga.

Matanya mulai menjelajah seisi stadion, mulutnya mulai gagap mencoba menirukan lagu-lagu belakang gawang. Beberapa lagu mulai masuk dalam ingatan. Sepanjang hari besoknya mereka menyanyikan lagu-lagu sepakbola di sekolahan dengan teman-teman. Si orang tua sudah menunggu betul tanggal gajian mereka karena dengan segera seteah bayaran maka ia bisa membelikan jersey tim kebanggaannya ukuran kecil, dengan nomor punggung dan nameset anaknya, atau nomor punggung dan nameset pemain idola. Dipakailah jersey si anak dengan bangga. mbahrenggo. kumbah. garing. dienggo. Pelan-pelan segala merchandise komplit di rumah tentang Superelja. Begitu terus diulang dalam kali-kali berikutnya sampai tidak mereka sadari sepakbola sudah jadi bagian dalam hidup mereka.

Tonggos,

Mei 2020