Apriori

Celaka, sepakbola yang jadwalnya semrawut, tarik-ulur, dan serba dadakan akhirnya harus dimulai dalam instruksi dadakan. Dan tim kami, kalang-kabut seperti biasa.

Dua minggu sebelumnya: liga ditunda tiba-tiba. Saya dan beberapa teman suporter dalam lingkaran kecil bergerak reaktif untuk membuka obrolan tentang sepakbola malam harinya di media sosial. Poster dan tautan diedarkan cepat, beberapa orang ikut nimbrung mengobrol. Pertanyaan-pertanyaan tentang kapan sepakbola Indonesia benar-benar dimulai lagi tentu saja tidak mendapat jawaban karena kami sebenarnya hanya rindu membicarakan sepakbola. Kebetulan saja kabar penundaan liga muncul sore itu dan kami menginjaknya sebagai patokan silaturahmi. Sejauh dalam ingatan saya, semua orang dalam obrolan menginginkan sepakbola untuk segera bergulir. Di tengah keadaan yang mencekik hidup dalam bayang-bayang pandemi, sepakbola adalah jawaban paling masuk akal. Tentu ia merepresentasikan perjuangan, setiap pendukung klub sepakbola akrab dengan perasaan ini. Tapi di dalamnya, sepakbola juga merepresentasikan rasa nyaman. Perasaan berada di antara orang-orang yang membela klub yang sama seperti menyesap sup buatan ibu yang hangat dan melegakan. Sepakbola, begitu priwitan wasit memulai pertandingan, adalah medan perang sekaligus oase yang dirindukan di tengah gersang. Maka wajar, penundaan liga (lagi) adalah berita buruk untuk orang-orang.

Semakin sepakbola diobrolkan, semakin sering keinginan untuk segera menyaksikan PSS Sleman mampir di pikiran saya. Semakin sering pula saya mengunjungi laman twitter PSS Sleman untuk melihat kabar terbarunya. Seminggu kemudian saya menyadari sesuatu, PSS Sleman menyapa kekosongan setiap harinya. Selamat pagi, selamat hari berakhir pekan, selamat hari Senin, dan halo-halo lainnya hanyalah hafalan yang terjadwal. Saya dan PSS Sleman sudah terpisah lama dalam silaturahmi, di samping pertandingan yang tidak tergelar, juga di antara ikatan saya sebagai pendukung dan PSS Sleman sebagai klub yang saya dukung. Nyaris tidak ada interaksi kecuali sapaan yang dipublikasi dan jawaban di kolom komentar seadanya.

Di awal masa membangun tim PSS Sleman, CEO baru, Marco kerap sekali membalas cuitan para pendukung, akun ofisial juga kerap sekali berbalas komentar. Sepakbola seperti dibawa ke angin yang lebih segar setelah badai taifun mengobrak-abrik tim kami sejak kepergian Seto Nurdiyantoro. Ada ketenangan sekaligus keyakinan bahwa PSS Sleman akan menggambarkan perjuangan dengan baik di kompetisi. Tak lama, piala menpora terjadi dan PSS Sleman bermain membosankan. Permukaan air tidak lagi tenang, para pendukung mempertanyakan segala filosofi dan ucapan-ucapan manis baik dari CEO dan klubnya sendiri. Benarkah kita menuju arah yang sama? Pernyataan-pernyataan ofisial klub menjadi mudah sekali dibantah, diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih lama lagi tiba jawabannya. Ada rasa percaya yang mulai luntur, para pendukung menjadi lebih sukar mengunyah kata-kata yang keluar dari klub. CEO dan klub menjadi pendiam. Dan pertanyaan-pertanyaan yang lahir kemudian tidak pernah lagi menemui jawaban.

Sementara itu, dalam hati kecil saya, ingin sekali pertandingan segera bergulir dalam format kompetisi apapun. Bagaimanapun juga, dunia akan lebih baik jika ada sepakbola. Dan kemungkinan hubungan antara pendukung dan klubnya akan membaik seiring perjuangan yang harus disunggi bareng. Orang-orang yang setia pada PSS Sleman sudah mengerti betul bahwa sepakbola bukan saja kerja klub semata, suporter sudah lama nyemplung bahkan menyelam terlalu dalam untuk berusaha menghidupi klubnya. Sekalipun lini masa akan penuh hujatan jika satu pertandingan tak sesuai keinginan, tidak ada sepakbola jauh lebih buruk dari itu.

Seminggu sebelum liga benar-benar dimulai kembali, orang-orang kembali merasa hidup sebab sepakbola akhirnya akan menemui akhir puasanya walau hanya bisa ditonton dari layar kaca. Lini masa kembali bergeliat, para suporter sudah sibuk dalam kepala menduga-duga akan seperti apa penampilan klubnya di musim yang berat bagi semua orang. Pada satu titik semua orang menyadari hal yang sama, PSS Sleman belum sama sekali memulai latihan dalam sepekan menuju pertandingan pertama. Pemain masih terpencar dan latihan tak akan bisa digelar dalam satu kedipan mata. Ada kekhawatiran yang hadir apakah tim kami akan siap menjalani liga. Saya sendiri makin sering mengecek lini masa berharap kabar baik tiba dengan segera bahwa PSS Sleman sudah memulai latihan, atau sudah menyiapkan strategi, atau bahkan sudah yakin penuh akan memenangkan laga pertama melawan klub ibukota. Nyatanya kabar macam itu tidak tersiar dan untuk kali pertama saya menginginkan agar liga ditunda sekali lagi dalam senyum kecil saya, “bangsat memang.”

 

Ditulis oleh: Tonggos Darurat

Artwork: 976stud