Sepakbola dalam Kata-Kata, Syukur yang Beneran, dan Buku yang Terlanjur Terbit

Pagi ini aku menulis dua. Yang pertama karena ketiduran (lagi) untuk hari sebelumnya dan yang kedua karena aku ingin menulis hal yang sangat personal hari ini. Kira-kira satu dekade yang lalu lebih sedikit, sewaktu aku masih baru bergabung di Ultras PSS, aku sering nimbrung di obrolan-obrolan mas Fayzal tentang sepakbola. Ia adalah seniorku di sepakbola sekaligus di perkuliahan. Kebetulan pula skripsinya tentang sepakbola sehingga obrolan-obrolan tentang buku bertema kulit bundar sering terjadi. Pada hari-hari itu, buku-buku tentang sepakbola masih sedikit sekali beredar. Kalaupun ada harganya lumayan untuk anak kos dan mahasiswa macam kami yang rokok masih ngeteng dan sarapan dirapel makan siang: nasi sayur. 

Obrolan tentang buku sepakbola menjadi sangat kusimak karena kami harus berganti-gantian membacanya di antara tugas-tugas kampus yang berjubel sehingga diskusi tentang isi buku bola menyingkat waktu mana yang harus kubaca lebih dahulu, mana yang nanti saja kalau sudah senggang. Trilogi Sindhunata adalah yang paling bisa kuingat karena sejak aku mengenal tiga jilid itu, aku mulai menulis blog tentang perjalanan sepakbolaku. Tiga buku ini menyita banyak waktuku karena cetakannya yang memang tebal, menyingkirkan beberapa buku bola lain yang isinya kliping wikipedia.

Literasi-literasi sepakbola lain dalam jurnal dan opini juga minim bisa didapat kecuali kalau kami cari di kolom komentar facebook, itupun membosankan. Baru belakangan aku membaca buku-buku antara lain dari Zen RS, Fajar Jun, Antony Sutton, dan Mahfud Ikhwan yang sempat ketemu di diskusi sepakbola Balairung UGM. Bacaan-bacaan ini menambah sudut pandang baru dalam melihat sepakbola, sehingga aku larut tumbuh di barisan-barisan kalimat itu. Waktu lama berselang, aku kehilangan akses di blog lamaku dan memutuskan membuat baru. Mengisinya khusus untuk tulisan sepakbola karena menurutku banyak yang terlewat dalam tahun-tahun perjalanan orang-orang jika kisah tidak dituliskan. Mencoba ngobrol lagi dengan Kartogeni, adik kelasku di SMA yang dulu akif menulis pula tentang sepakbola di blog pribadinya.

Setelah beberapa tulisan terbit di platform baru, tawaran datang dari Penerbit Kanopi untuk menerbitkan buku tipis beberapa lembar cerita tentang PSS Sleman yang aku dan Kartogeni tulis. Isinya tentu saja tentang kami yang menjalani pertandingan demi pertandingan dalam 10 tahun terakhir. Mungkin akan masih sangat jauh jika dibandingkan dengan buku orang-orang yang kusebut sebelumnya, tapi yang penting adalah bagaimana sepakbola yang ruwet ternyata bisa ditulis dalam susunan yang rapi. Kata demi kata ternyata bisa membawa orang lain masuk di plot yang serupa, yang mungkin juga dialami orang lain selain kami. Menulis sangat mudah, tapi menulis dengan baik sungguh PR.

Di tengah audio visual yang sangat empuk dikunyah orang, buku adalah tantangan yang berbeda. Selain karena mungkin ngantuk dan ketiduran di tengah-tengah halaman, membeli buku bukan prioritas orang-orang yang terhimpit butuh makan dan bersandang. Terlebih lagi untuk menulis, orang butuh membaca lebih dulu yang mana merepotkan untuk sebagian kalangan. Walaupun begitu, yang tertulis tetap abadi dan itu yang menjadi banggaku. Sampai akhirnya Pada Suatu Waktu Yang Sleman Sekali terbit dengan bantuan banyak orang. Aku sudah menulis dan akan terus menulis. Selamat hari buku.

Tonggos,

Mei 2020