Step Dua

Pertandingan di Rembang berlangsung memabukkan. Pulpy orange dan beer hitam kadaluwarsa, yang kami semua baru sadari setelah habis jamuan, mengunci panas pantura dengan apik. Keringat mengalir terus bersama pisuhan-pisuhan lazim, “bajingan” dalam intonasi sedang. Pertanda rasa pasrah dan berserah pada alam semesta, “nek kudu sumuk ngene aku yo manut.” Rembang sendiri terkenal sebagai tim yang kuat di kandang. Kami menempati belakang gawang sisi selatan bersama rombongan Slemania. Beberapa nyanyian kami sama hari itu karena peduli setan kelompok mana yang penting lagunya PSS di kota orang. Ultras PSS berada di paling kiri rombongan, berbagi tempat bersebalahan dengan penonton umum PSIR yang mayoritas nelayan, pergi nonton bola sebagai hiburan waktu laut tidak terlalu tenang dikendarai untuk cari uang. Kami bernyanyi keras-keras dalam skor tertinggal. Penonton umum di sebelah kami mulai marah karena hari liburnya yang santai justru lekat dengan berisik mulut-mulut kami. 

Lemparan mulai terjadi sejak potongan pepaya pertama mendarat di kerumunan kami, berikutnya entah itu jagung rebus atau sisa tahu silih berganti. Kami tetap berusaha bisa bernyanyi sambil berhadap-hadapan dengan tuan rumah sementara suporter resminya di bawah papan skor kebingungan menyikapi ricuh di dekat jalan keluar. Kami sendiri berada di antara tawa dan getir karena benda-benda yang datang umumnya bekas gigitan orang. Beberapa kawan yang kena lempar mendapat cemooh bahkan sampai hari ini karena memang bukan hal yang menyakitkan kena lempar bonggol jagung rebus. Polisi mengisoli kerumunan kami seiring pertandingan selesai, kami masuk ke tengah lapangan untuk istirahat, selonjor sebentar dan menertawakan diri kami sendiri. Beberapa orang lain acak marah-marah pada tidak tentu, entah skor yang kalah atau emosi beneran karena adu lempar apapun tadi. Ultras PSS menyepi di sudutnya sendiri dekat bench pemain PSS sambil ngobrol santai tentang berapa uang yang tersisa untuk pulang nanti, untuk bensin, untuk makan, dan untuk minum lagi kalau masih ada sisa.

Hari mulai gelap dan kami berangsur pulang. Para nelayan tidak terlihat berkerumun menunggu kami dengan batu sehingga jalan pulang mulus saja sampai Sleman. Di tengah jalan, di tengah dehidrasi dan kantuk kami semua yang kepanasan sepanjang hari, Liston membuka obrolan paling mutakhir sepanjang aku tahu sepakbola, “Urawa Red itu giant flagnya pakai apa ya?” Ini tahun 2009 dan giant flag ukuran meter belum populer di Sleman. Plus kami tidak tau penyangga apa yang pantas dan kuat. Liston dan Bebex berspekulasi mereka menggunakan joran pancing. Sementara itu benda macam itu belum cukup tersedia 10 tahun lalu. Sepanjang jalan pulang kami berdiskusi sungguh-sungguh tiang apa yang bisa kami bikin untuk bendera-bendera raksasa. Aku sendiri memutar otak ingin membuat bendera itu. Akhirnya diputuskan di jalan itu pula, kami akan coba membuat bendera raksasa dengan pipa sebagai penyangganya. Beberapa hari berselang, Liston datang siang-siang ke kamar kos. Ia menyalakan komputer dan mulai membuat pola-pola bendera, “besok kalau sudah mau bikin, biar sudah ada desainnya.” Seketika itu aku pamit pulang dan berbohong pada ibu untuk membawa televisi tak terpakai ke kos.

Alasannya tentu saja agar di kos ada hiburan. Beberapa ratus meter dari rumah, aku mampir ke tukang loak dan menjual televisi rumah kiloan. Itulah 65 ribu sebagai giant flag pertama di tribun selatan. Ide-ide semacam ini sering muncul di perbincangan-perbincangan kami di kos. Termasuk beberapa chants yang akhirnya dibawakan di stadion juga dimulai dari waktu senggang di kamar kosan. Lain hari Liston dan Bebex membuka komputer dan di monitor terpampang microsoft excel, ternyata mereka berandai-andai mendesain bentuk koreografi di tribun seumpama suatu hari nanti Tribun Selatan bisa mewujudkan. Sekarang ini bendera-bendera raksasa berderet di Maguwoharjo, lagu-lagu baru senantiasa ada terus dan segar dari orang-orang manapun yang suka Superelja, koreografi  sudah menjadi hal yang dinanti-nanti. Semua aksi-aksi itu, percaya padaku, dimulai dari omong kosong tentang PSS Sleman.

Tonggos,

Mei 2020