sumber foto: 976stud

Sudah Lama Tanpa Sepakbola dan Politik Jalan Terus juga Nasib Buruknya

Ia pernah sangat marah pada bakul roti yang lewat depan rumahnya tiap pagi, setidaknya tiga kali selama hidupnya. Satu pagi ia sangat terburu-buru sebab kantornya tetap mewajibkan karyawannya masuk sebelum pukul delapan pagi sementara ia bangun terlambat kali itu. Selepas mandi yang pura-pura dan memakai sempak secepat-cepat ia bisa, masih dalam nafas yang terseok-seok dikejar waktu, ia mendengar suara bakul roti dan baginya adalah ide bagus untuk membeli sepotong sebagai bekal sarapan. Ia melakukannya dengan cepat, membeli sepotong roti isi meses dan memasukkannya ke dalam tas, mengabaikan senyum bakul roti pada konsumen pertamanya hari itu, lalu memacu motor bebeknya dengan cepat pula. Dalam hatinya penuh rasa khawatir sebab bodi Supra Fit tidak didesain terlalu kuat menahan kecepatan, tapi teguran supervisor lebih membuatnya khawatir pagi itu.

Tentu saja ia tetap datang terlambat. Supervisor menegurnya dengan ancaman potong gaji hingga pemecatan, juga nasihat-nasihat yang tidak betul-betul ia dengarkan karena nasibnya sudah cukup buruk untuk celoteh-celoteh tambahan yang ia tidak kehendaki. Setelah membuat kopi di mesin otomatis kantor, ia merogoh tasnya dan memulai sarapan di cubicle. Rotinya keras, kurang telur, dan margarin di dalamnya lengket di langit-langit mulut. Ia mengabaikan rasa mesesnya yang aneh karena springkle-springkle kecil terlalu rumit untuk dihitung kesalahannya satu persatu. Ia kehilangan empat ribu rupiah dan nasib baik pagi itu.

Pagi-pagi serupa sebenarnya sering ia lewati, terutama di hari Senin hingga Jumat. Bangun kesiangan, omelan atasan, sarapan yang tidak pas, sering datang bertubi-tubi sebagai alarm kesialannya saban pagi. Tapi hari itu semuanya tumpah jadi satu dan ia memutuskan bakul roti yang bersalah. Bakul roti tidak pernah tau hal ini dan berjualan esok harinya.

Lain waktu ia sedang libur akhir pekan dan tidurnya boleh lebih lama daripada hari biasanya. Ia sedang menggandeng tangan Cut Tari dalam mata terpejam. Dalam kecepatan virtual, langkah kaki membawa mereka ke kamarnya yang sumpek dengan baju kotor. Cut Tari adalah seorang yang sungguh pengertian hari itu, ia diperbolehkan merapikan dahulu kamarnya sementara Cut Tari menunggu sambil duduk di tepi kasur. Sesaat setelah kemeja dan celana kemarin malam tergantung di balik pintu, Cut Tari bahkan menyambutnya dengan kombinasi senyum dan pelukan. Mereka mulai berciuman, tangannya mulai menuju buah dada si cantik dan bakul roti berteriak kencang dari luar rumah menjajakan roti isi meses empat ribu rupiah yang keras, kurang telur, dan margarin di dalamnya lengket di langit-langit mulut. Ia membuka mata dan suara bakul roti kembali lagi menjajakan dagangannya. Ia buru-buru memejamkan mata lagi takut Cut Tari tak mau menunggunya lebih lama tapi ia tidak lagi mendapati si cantik. Kecuali bayangan si bakul roti yang tidak ia kehendaki pagi itu untuk ia cumbu.

Bakul roti sebenarnya tidak jelek. Wajahnya ayu dengan hidung sedikit pesek dan mata yang sayu. Hanya saja pagi ini ia melewatkan satu kesempatan memegang buah dada Cut Tari. Ia marah sekali lagi. Dan bakul roti tetap berjualan esok harinya.

Ia memang pemarah dan penggerutu, terlebih dengki memang lahir dan tumbuh besar dalam dirinya. Terutama pada artis-artis televisi yang dinas pajak sampai kebingungan menghitung upeti dari mobil-mobil mewah mereka, yang terus mereka beli tiap ada keluaran baru. Juga soal jalan-jalan ke luar negeri sekeluarga yang dikemas sederhana sebagai program acara dengan kalimat “Alhamdulillah dikasih rezeki”, atau “Puji Tuhan bisa berbagi kegembiraan”, pada para pemirsa di layar kaca yang telur dadarnya kadang gosong. Ia memang mengomentari banyak hal dengan nada amarah.

Kecuali bicara tentang sepakbola, ia bisa menjadi sangat romantis. Kemenangan bisa ia lukis dengan kalimat-kalimat heroik, berapi-api dan sarat gelora. Kekalahan juga tidak luput dari detail yang sendu, dikemas serba melankolia dan berlarut sampai hari pertandingan berikutnya tiba ia akan melantur sekali lagi bahwa besok adalah hari yang sungguh penting.

Hatinya berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan. Hatinya berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan dan wasit meniup peluit dimulainya pertandingan. Hatinya berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, dan umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim. Hatinya berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim, dan sesekali kesempatan mencetak gol datang. Hatinya berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim, sesekali kesempatan mencetak gol datang, dan gawang musuh akhirnya getar oleh tendangan geledek si penyerang. Hatinya berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim, sesekali kesempatan mencetak gol datang, gawang musuh akhirnya getar oleh tendangan geledek si penyerang, dan hidupnya yang kacau seakan baik-baik saja.

Hari-hari menjelang akhir tahun adalah yang tersulit. Dunia sedang kacau dan ia kehilangan sepakbola. Orang-orang lain juga kehilangan banyak hal dan mulai bicara yang aneh-aneh di mana saja. Si ini ribut dengan si itu. Di sini perang dengan di sana. Awalnya ia kira bekerja dari rumah adalah pembebasan atas omelan-omelan di pagi yang terlambat, tapi senyatanya ia kehilangan kopi gratis dari mesin kopi otomatis di kantornya dan ibu warung kelontong sebelah rumahnya selalu cemberut jika ia hanya datang untuk membeli 2 sachet untuk pagi itu. Pekerjaannya tidak berkurang sibuknya, ditambah wajah cemberut ibu warung kelontong sebelah rumah, juga omelan-omelan dari supervisor yang untuk sementara waktu datang lewat surel.

Dendamnya pada bakul roti sebenarnya sudah punah sejak ia dengan lapang dada merelakan empat ribu rupiah dan Cut Tari dalam hidupnya yang nahas. Ia sudah lelah menggerutu. Tapi masih sesekali dengki pada artis-artis televisi. Sebagai ikrar damai pada diri sendiri, ia keluar pagi ini saat bakul roti lewat depan rumahnya seperti hari biasa. Ia bahkan menyambut senyum si bakul roti dan melahap roti isi meses yang keras, kurang telur, dan margarin di dalamnya lengket di langi-langit mulut. Ia tidak buru-buru masuk kembali ke rumah dan mencoba bertukar obrolan lebih panjang.

“Loh, mbak tumben tinggal separo box? Biasanya masih penuh jam segini?” kalimatnya dalam nada canggung.

“Hari ini memang cuma bawa separo mas, nanti kan mau coblosan,” jawab si bakul roti, “mas nanti mau pilih nomer berapa? Sebagai warga negara kudu ikut milih loh mas.”

Percakapan pagi itu terhenti. Ia tidak menjawab dan buru-buru masuk dalam rumah dengan bantingan pintu yang tidak perlu. Ini adalah kali ketiga amarahnya tumpah pada si bakul roti. Sekali pun bakul roti tetap akan berjualan esok harinya.

Lebih-lebih ia marah karena sudah lama hatinya tidak berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan. Sudah lama hatinya tidak berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan dan wasit meniup peluit dimulainya pertandingan. Sudah lama hatinya tidak berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, dan umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim. Sudah lama hatinya tidak berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim, dan sesekali kesempatan mencetak gol datang. Sudah lama hatinya tidak berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim, sesekali kesempatan mencetak gol datang, dan gawang musuh akhirnya getar oleh tendangan geledek si penyerang. Sudah lama hatinya tidak berdebar tiap kali bola sudah ditempatkan di tengah lapangan, wasit meniup peluit dimulainya pertandingan, umpan-umpan mulai bertukar antar dua tim, sesekali kesempatan mencetak gol datang, gawang musuh akhirnya getar oleh tendangan geledek si penyerang, dan hidupnya tetap kacau sebab sepakbola sudah lama berhenti.

Dan politik jalan terus. Juga nasib buruknya.

(Tonggos)