Tak Ada Tahu Asin

Tentu saja, aku ingin sekali mencintaimu terus-terusan. Mencintaimu seperti pemuda belia yang merah wajahnya saat menulis surat pendek pada gadis tercantik di kelas, dengan sobekan kertas dari bagian belakang buku dan bolpen seadanya dari warung kelontong sebelah rumah. Kata-katanya berbunga, tangannya menggaris kertas tanpa gusar, tanpa ragu, dan tanpa kekhawatiran yang betul-betul.

***

Tangannya gemetar memencet telepon selular, sambil bibirnya komat-kamit mencari kata yang tepat. Ia sungguh tak puas melihat permainan sepanjang 45 menit dari jauh, dari Bandung. Tahun-tahun sebelumnya, Bandung adalah destinasi mudah untuk sebuah lawatan sepakbola. Berhitung resiko apapun, Bandung selalu bisa jadi keputusan berangkat, tanpa pikiran terlalu panjang. Di sana, ia akan habiskan nasib bersama klub sepakbola yang tinggal dalam rasa bangganya. Menang, kalah, atau berbagi angka tidak akan jadi perkara panjang, sebab ia berdiri menyaksikan tim berlaga dan ia bernyanyi sekeras-keras yang mungkin. Ia saksikan penggawa berjuang dan ia pastikan dirinya berkorban. Sayangnya, lain soal tahun ini.  Turnamen pra-musim digelar tanpa penonton, ia bernyanyi sendiri menghadap layar proyektor, sementara tim bermain kebingungan di jauh. Kata-katanya meluncur baris demi baris di jejaring internet, marah, malu, jauh dari puas. Ia kelabakan atas emosinya sendiri. Seketika ia berhenti pada satu persimpangan: masihkah aku seorang pendukung yang setia? Pertanyaan serupa hadir melulu tiap kali ada amarah atas hasil yang buruk, entah kalah yang tak semestinya, atau kemenangan yang tak patut dikenang.

Ia pulang seusai peluit panjang dengan rasa kalut di genggaman tangan. Mulutnya terkatup sepanjang aspal sampai rumah, tapi hatinya menyanyikan lagu yang biasanya khidmat di penghujung laga:

Pernahkah kau merasa melihat secercah cahaya?

Mimpi di depan mata, Super Elja pasti ‘kan juara.

Pertandingan yang barusan ia saksikan tidak serupa sama sekali dengan yang sebelumnya ia ikuti. Harapan jauh sekali, jauh seperti perjalanan baru dimulai, belum pada tengah jalan yang hampir selesai. Benarkah kemenangan sudah dekat? Atau bahkan babak pertama belum dimulai? Belum selesai pertanyaannya terjawab dalam pikiran, bait berikutnya terlantun begitu saja dalam hati,

Bertahun menjalani, lelah ini tak terasa lagi.

Pagi berganti pagi, masih ada keinginan hati…

Ia seperti disentil di rapal-rapal baru saja, bukankah permainan kacau begini sudah biasa ia saksikan dulu-dulu sekali, stadion masih sepi dan sepakbola dipuja hanya oleh orang-orang yang memang terlanjur gila, nyemplung basah di badai kekalahan bahkan di kandang sendiri -tapi tegap di pertandingan berikutnya seolah yang kemarin hanya ombak yang lewat di sela-sela kaki. Hasil tak selalu 3 angka di tabel kompetisi, kekalahan dan kemenangan sama bobotnya seperti tidur menjelang subuh, penuh overthinking, duga-duga hingga kita ketiduran dan bangun kesiangan esok harinya, berhadapan dengan pertandingan berikutnya yang hasilnya kembali tak tentu. Ia mulai pertanyakan ulang dalam hati, kenapa ia belum siap untuk hasil yang mengecewakan hari ini?

Sebuah kehormatan mengawalmu pahlawan,

 Untuk selalu berjuang, mewujudkan harapan.

Percaya kita ‘kan rayakan, kawan…

***

Ia biarkan jembatan lagu berputar di pikirannya, terlantun begitu saja sambil ia memarkir motornya di teras rumah. Masuk kamar segera dan menyenderkan tubuhnya di tepi kasur. Berhadapan dengan tembok yang ia tempeli pernak-pernik khas Super Elang Jawa. Sisa-sisa sobekan tiket, hiasan-hiasan dinding, syal PSS dari masa kecil. Untuk kali ini, ia merasa sangat jauh dari sepakbola yang ia geluti separuh usia. Benarkah menyaksikanmu dari layar sama hangatnya dengan berdiri di belakang gawangmu? Menyanyikan lagu-lagu yang hafal begitu saja di luar kepala, mantra-mantra supaya kamu berlaga sehebat mungkin, berjingkrak hingga kadang paha dan kempol kram sebab tak pemanasan -lantaran bukan pemain. Ia kehilangan sentuhan-sentuhan kecil pengalaman menonton di stadion, dan sialnya, menonton sepakbola di televisi tidak asyik karena penuh iklan. Masihkan aku mengawalmu? Dari jauh begini?

Ia takut sejadi-jadinya jika kali ini ternyata ia bukan lagi pendukung yang setia, sebab ia tak hadir, ia tak dekat, ia tak benyanyi, ia tak berjingkrak, ia hanya angka share rating tv -dan jumlah followers, dan subscribers, dan angka apalagi?

Demi satu nama kebanggaan di dada, ‘kan kuberi segalanya.

Super Elang Jawa jadilah juara, kukorbankan segalanya, sampai kau bisa…

 

 

Selamat ulang tahun.

 

(Tonggos)