Takbir Barisan Nyala Api

Seperti sore-sore yang lumrah pada umumnya, aku melewatkan jam berbuka karena keturon yang new normal. Menuju setengah tujuh malam, suara kembang api bersahut-sahutan dari sebelah rumahku, adu berisik dengan gonggongan 3 anjingku yang kitar-kiter ketakutan suara ledakan. Tidak ada pawai takbir tahun ini, seperti ketidakadaan hal-hal yang lain. Padahal dulu kita sudah sibuk dengan segala pawai sejak satu hari sebelumnya dengan arak-arakan khas kemenangan. Aku ingat pernah ada satu era takbiran berubah bentuk di Kabupaten Sleman. Sejak tribun selatan tumbuh membanyak, flare menjadi jajanan yang lumrah bagi orang-orang sekabupaten. 

Orang-orang mulai akrab dengan pijarnya yang merah, kadang nemu yang hijau kalau beruntung seperti huruf N di permen karet Yosan. Dulu, selayaknya takbir yang berarak, obor-obor berjejer dengan aroma khas minyak tanah. Anak-anak di bagian depan kadang bergantian dengan kawannya memegang obor sambil diikuti orang tua mereka dengan sepeda motor di bagian beakang. Para usia tanggung mengawasi di dalam barisan memastikan latihan yang mereka sudah habiskan bisa terwujud dalam seni-seni praktis di dalam pawai. Siapa tau nanti menang di penjurian. Tiba-tiba sekali di satu tahun di dulu, obor-obor yang baunya agak sangit berganti dengan pijar flare.

Desa-desa yang komunitasnya menjadi bagian di tribun selatan ramai membagikan video pawai mereka dengan obor logam. Tidak lagi bambu-bambu dengan sumpelan kain celupan minyak. Satu masa itu pertanda sepakbola hidup lagi di kabupaten ini, dengan warna baru dan gairah yang baru. Kebiasaan dalam sepakbola mampu masuk di kehidupan berkomunitas dan bermasyarakat. Saat melihat rentetan video-video itu, timbul keyakinanku bahwa PSS Sleman akan banjir dukungan, sama seperti dulu saat pertandingan diumumkan dengan mobil-mobil reyot keliling desa.

Benar saja, sejak itu tribun selatan semakin sesak oleh orang-orang yang gila bola, ramai berangkat berbondong-bondong ke kota orang, mengawal PSS Sleman jauh-dekat. Sejak Superelja kembali menjadi potongan kisah di masyarakatnya, ia tak pernah sendiri lagi.

“Allahuakbar..Allahuakbar..”

Tonggos,

Mei 2020