Cintailah Takdirmu

0

Kembali memegang “percaya” setelah menapaki jalan semusim penuh teater bukanlah sebuah hal yang mudah. Dari komplotan jamur yang perlu dilengserkan, umpatan-umpatan murka di kota-kota orang yang perlu disambangi, hingga jurang degragadasi yang sedekat pandang, adalah benang merah yang mengganggu tidur sepanjang tahun. Namun jika menarik cerita-cerita lampau, setiap hal baik, kesulitan, pencapaian, dan setiap breakthrough, adalah hasil dari kebisingan yang dipercayai. Setelah sepuluh tahun terjebak di strata kedua dan promosi hanya sebatas nyaris, tak sedikit yang kecewa dan menggerutu mengganggap bahwa klub ini sepertinya memang dikutuk untuk tetap di strata kedua. Namun orang-orang yang sama tetap kembali di tempat biasanya di stadion, di setiap musim selanjutnya dengan kepercayaan yang baru bahwa strata kedua bukanlah habitat alami untuk klub ini. Keyakinan  bahwa klub ini mampu menerjang batas-lah yang membentuk masa depan klub ini.

Sejarah PSS Sleman tebentuk oleh mereka yang optimis, begitu juga dengan masa depannya. Dunia yang dijalani suporter bukanlah dunia yang sempurna. Tidak ada kesempurnaan, tidak kurang masalah, dan hal buruk yang kerap mendatangi. Membayangkan sepakbola dengan utopia saja pikiran belum sampai. Namun protopia sepertinya menjadi kacamata yang paling pas untuk memandang sepakbola. Progres perlahan dalam konteks-konteks kecil yang mungkin tidak akan menyenangkan bagi semua orang. Sense of optimism seperti itu yang memberikan perspektif bahwa semua akan baik-baik saja dan memberi alasan untuk berharap daripada untuk takut. Terlewati segala anekdot yang terpatahkan dan batu pijakan yang ditinggalkan. Jika progres adalah tentang yang belum terjadi, lantas apa gunanya memberikan keraguan dengan kemasan yang sama?

Sepakbola adalah untuk anak-anak kecil sekolah dasar yang berani berharap klub kebanggaannya tidak akan membuatnya malas untuk berangkat ke sekolah. Sepakbola adalah untuk pelajar dan pekerja yang berharap apapun yang mereka korbankan akan worth it. Sepakbola adalah untuk orangtua-orangtua yang berharap bahwa ia tak hanya akan menularkan patah hati ke anak-anaknya ketika membawanya ke stadion untuk pertama kalinya. Harapan-harapan tersebut tak terkabulkan dalam kejapan mata. Hal buruk terjadi lebih cepat. Kebaikan butuh waktu. Percaya saja bahwa PSS sedang berada di tangan yang benar dan percaya mereka akan melakukan hal baik, tanpa menggerutu sebelum dibuktikan salah. Belum waktunya untuk mengingatkan bagaimana seharusnya merawat PSS. Kemampuan kita untuk mengurai benang yang ruwet lebih baik dari yang kita sadari.

Sepakbola mengembangkan ketidaktahuan lebih cepat dari yang kita pelajari. Tidak ada batas untuk naik, maupun untuk arah-arah lainnya. Keyakinan adalah pilihan, bukan sifat. Tak peduli perasaan apapun yang didapatkan dari sepakbola, keyakinan tetap bisa dipilih. Menggemari klub sepakbola sepaket dengan obligasi untuk percaya. Tidak ada gunanya berangkat ke stadion maupun menyalakan televisi tanpa dibekali keyakinan bahwa PSS tak akan mengecewakanmu. Kekecewaan bentuk apapun tak akan menjadi roller coaster pertama yang kita naiki.

Promosi ke Divisi 1 pada tahun 1996 dengan talenta lokal. Promosi ke Divisi Utama pada tahun 2000 setalah tanpa diperhitungkan orang-orang. Bertengger di papan atas Divisi Utama dua musim berturut-turut pada tahun 2003 dan 2004. Bertahun-tahun terjebak di Liga 2 setelah sukses untuk gagal promosi dengan spektakuler, hingga akhirnya memastikan promosi di 2018 dengan tegas. Menjalani musim pertama kembali di top flight dengan penuh tanda seru. Lalu lolos dari degradasi setelah sepanjang musim menjalani kompetisi dengan punggung yang menempel tembok. Satu dari PSS yang saya percayai adalah PSS Sleman tidak pernah lupa bagaimana caranya menabrak takdir.

oleh: Radhifan

 

*Tulisan ini juga terbit di zine 976xdibataspagar volume 5.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here