Le Vie Est Belle, Sepak Opini, dan Kebenaran-Kebenaran yang Terjadi

Tulisan kali ini adalah obrolan paling mutakhir tentang hidup yang ga melulu harus tarung bicara, karena setiap orang berhak jadi setiap orang.

***

“Seandainya PSS tak pernah terpuruk, kita mungkin tak pula akan menghadapi kerumitan-kerumitan ini”

***

Kita bisa berandai-andai bahwa sepakbola selalu menjanjikan gembira namun hidup kadang tega untuk membawa kita di kenyataan yang pahit: hal-hal baik dalam imajinasi kadang tidak terjadi. Lalu terjebaklah kita dalam keruwetan.

Belakangan cuaca sore hari kerap disiram hujan, senyap menyergap cahaya, murung mendung yang ada. Kios kopi pinggiran kota tetap menjadi tempat kesukaan kami, menikmati jam demi jam. Sebab kita tak dapat menghabiskan waktu, kukira waktu yang akan menghabiskan kita. Mesin kopi menyapa dan orang-orang berlalu lalang. Simpul senyum mesin itu menemani beberapa orang -penjaja dan pelanggan- seharian, pagi lepas pagi lagi. Bangku teras adalah singgasana idaman, kami menyebutnya kursi raja meski belakangan jejeran rotan mulai reyot akibat kelelahan menampung banyak pengunjung. Deru mesin orang-orang kerap bikin jengkel sewaktu lagi asik baca tulisan-tulisan Dea Anugrah dan Eka Kurniawan dan AS Laksana dan lini masa, gudang garam tak boleh lepas dari jari-jari tangan. Dalam satu kedipan mata obrolan soal bola segera mulai. Pemilik baru, boikot-tidak boikot, caci maki, sampai okol-okolan sedang giat-giatnya mendiami pikiran para penyuka Superelja. Banyak yang kebingungan sampai-sampai lupa bahwa keyakinan kita sama.

Sepakbola ideal bagiku bisa berbentuk apa saja: kemenangan atas rival, kedigdayaan melawan tim kaya raya, juara, promosi, bertahan di atas zona degradasi, pesta gol, serangan balik yang memutar nasib, kadang juga peluit akhir yang sarat pesta pora, atau justru permenungan atas hasil buruk. Bisa apa saja, selama ia menjanjikan kehidupan sepakbola yang lebih baik, bukan yang kita hadapi sekarang ini, yang minim kejelasan serta banyak perkiraan. Belum tentu juga pemilik baru akan sama dalam satu tujuan. Masih di awang-awang. Pikiran kita tinggal di dalamnya tanpa tanda tangan kontrak; serba tak pasti dan banyak “kira-kira” yang masuk betubi-tubi ke kepala. Namun, kita tetap dapat menikmati sepak bola bagaimanapun keadaannya. Kita masih bisa bersandar pada keyakinan dan dari situlah harapan bisa terus lahir.

Kabar-kabar terkait PSS selalu diiringi riuh penggemarnya, sepasang jempol tangan menjadi satu-satunya kekuatan untuk turut tumpah ruah dalam keramaian yang ada, menyampaikan gagasan yang ia punya. Kebanyakan saling memaksakan apa yang ada di dalam kepala. Tak apalah toh kebebasan beropini adalah hak tiap-tiap orang, yang pasti aku selalu ingat kata seniorku di kampus sosial, ia bilang kita harus banyak membaca supaya otak lebih lincah daripada mulut atau sepasang jempol tangan yang kita punya.

Tentu segala perang opini, argumentasi, dan balapan isme-isme menghadapi situasi saat ini sangat melelahkan pikiran. Semua orang boleh merasa benar dan memang itu hak yang manusia miliki. Terlepas kita bicara dalam satu halaman atau justru dalam buku yang berbeda, pendapatmu adalah kebenaranmu yang tidak dapat kusalahkan, begitu pula sebaliknya. Sepak bolaku, sepak bolamu, tetap akan sama-sama kita nikmati. Sepak bola buat kami adalah teman hidup terbaik, sebab meminjam sedikit dari Dea Anugrah, “hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.”

(Tonggos & Pandhus/Maret 2020)