Federasi Politik Baris-Berbaris

Beberapa bulan lalu setelah kalimat perpisahannya yang rapi tertata setelah laga kontra Persebaya, legenda Macan Kemayoran memutuskan pensiun sebagai pemain. Bambang Pamungkas, pemain yang dulu kerap kubayangkan jika suatu saat berseragam hijau PSS Sleman. Imajinasiku  akhirnya tidak pernah terwujud sampai ia purna tugas di lapangan hijau. Bagaimanapun ia salah satu pemain sepakbola yang kugandrungi karena selain ia adalah kapten yang sungguh ikonik, ia menulis buku. Bisa kamu sebutkan berapa pemain sepakbola yang di dalam hidupnya bisa bercerita tentang karirnya dalam sebuah buku? Tentu saja tidak akan banyak.

Kamu bahkan lebih banyak mendengar pemain bintang yang akhirnya jatuh miskin di sepanjang sejarah sepak bola negeri ini. Karena ia seorang pesepakbola yang spesial buatku maka bersemangatlah aku begitu ia diundang maknatalks dalam podcastnya. Seorang pemain bola yang berpengalaman, mampu berkata-kata dengan rapi, dan banyak membaca; tak heran kalau durasi panjang obrolan tidak cepat berganti jadi bosan. Di tengah obrolan mereka ada satu pembicaraan tentang federasi. Bepe sungguh berhati-hati menyampaikan jawabannya kalimat demi kalimat. Meskipun begitu ia tetap berani mengutarakan pendapatnya yang sungguh tebal; patut mendapat garis bawah dan highlight stabillo seandainya kalimatnya kudapati di salah satu tulisannya. Ia berujar bahwa federasi selama ini tidak terpilih dari orang-orang yang mumpuni.

Kandidat-kandidat ketua federasi sepakbola melulu menang karena kontrak-kontrak menguntungkan bagi klub-klub pemilihnya. Sebelas-dua belas dengan metode kampanye pemilu lima tahunan. Bepe melanjutkan bahwa ada bagian dalam dirinya yang berandai-andai satu hari para suporter memboikot pertandingan klubnya dengan tujuan menekan klubnya sendiri untuk memilih ketua federasi yang benar-benar tepat untuk sepakbola Indonesia, bukan ketua federasi yang menjanjikan keuntungan-keuntungan hanya untuk para pemilih. Bagiku, andai-andai milik Bepe ini adalah kalimat yang sungguh tegas jika selama karir sepakbolanya, ia belum pernah mendapati federasi diurus orang yang kompeten. Aku sendiri mengiyakan dalam hati saat Bepe menata kalimat itu. Berapa banyak kita mendengar omong kosong tentang “Indonesia akan masuk piala dunia” dari para ketua federasi terpilih? Seingatku, semua berkata hal yang sama dan kita semua tau bahwa hal itu sampai hari ini masih jauh untuk digapai.

Menjadi tim yang konsisten di level Asia Tenggara saja belum, apalagi di level Asia? Ah, level dunia masih sangat jauh di omong kosong para ketua. Sepakbola masih benar-benar ada di dimensi kicau belaka. Timnas muda merajai level atas, lantas melempem di usia senior. Pertanda apalagi selain “sepakbola profesional” yang Cuma main-main? Seolah sepakbola Indonesia ini maju, dengan sistem dan gelaran menyerupai sepaakbola di benua Eropa sana. Alih-alih profesional, gaji pemain masih sering nunggak di akhir kompetisi. Menuju sepakbola modern tapi mau bungkusnya saja, itu yang kulihat selama ini. Pertandingan dengan atmosfer dan antusiasme besar diserobot televisi, tapi penjadwalan liga datang di tengah minggu. Orang-orang yang setia mengikuti sepakbola Indonesia over land and sea pontang-panting mengurus jadwal cuti. Aku tertawa saja karena hanya itu hiburan yang bisa kita nikmati. Indra Sjafri mati-matian urus pesepakbola remaja untuk remuk di level profesional yang konon penuh gempita.

Federasi tidak pernah benar-benar peduli kecuali pada sampul-sampul yang gemerlap. Lantas kini si Bule hire staf khusus dari militer sementara sepakbola belum bergulir. Menambah lagi dereran pangkat di federasi sepakbola yang setauku, olahraga ini isinya kiper, bek, tengah, dan striker. Jauh dari kapten, kopral, sersan, dan jenderal. Orang-orang lupa mungkin kalau sepakbola ini kawinnya olahraga dan seni.

 

(Tonggos/Mei 2020)