poster oleh: 976stud

Kartu Kuning

Kata kebanyakan orang tua, hidup berjalan seperti roda. Kadang berada di atas kadang juga merasakan ada di posisi bawah. Namun jangan lupa bahwa roda juga bisa bocor, pun sobek. Agaknya perumpamaan kalimat barusan lumayan berhubungan dengan nasib dan keadaan PSS hari ini. Pendukung tentu saja berharap jika kemudian PSS menjadi klub yang modern dan profesional. Saya sendiri yang sebetulnya tak begitu suka dengan sepak bola modern, pada akhirnya bisa ikhlas ketika PSS benar-benar menjadi klub yang tangguh di segala aspek.

Misalkan, musim pandemi brengsek ini berakhir kemudian tribun stadion sudah lagi bisa dijejali pendukung dan klub mesti menaikkan harga tiket, atau konten berbayar media yang dipunya tim, dan lain-lain dan sebagainya. Saya sendiri belum tentu bisa terus-terusan membeli tiket dan konten berbayar yang disuguhkan klub. Namun jika memang kebijakan tersebut mesti diambil demi roda-roda kehidupan PSS dan klub lebih baik ya apa mau dikata. Toh, saya masih bisa merayakan #PSSday bareng teman-teman di warung burjo, angkringan, atau kedai kopi.

Satu-dua tahun belakangan, sejak pindah kepemilikan klub, manajemen yang datang selalu menjanjikan hal-hal indah bakal membawa PSS menjadi lebih baik. Sejak itu pula justru PSS menjadi klub yang tidak kelihatan baik-baik saja. Pada musim sebelum-sebelumnya PSS adalah klub yang tak kaya-kaya amat. Namun kebetulan saat itu roda kehidupan PSS sedang banyak dinaungi dewi fortuna. Dengan transfer budget yang tidak banyak, orang-orang yang bekerja di tubuh klub bisa mendapat hasil yang cukup maksimal. Kini, dengan pemilik dan manajemen baru yang lebih punya banyak materi malah tak serta merta berbuah hasil-hasil baik bagi klub ini.

PSS kini tidak lagi menjadi tim yang dapat menjadi penghambat tim-tim kuat di papan atas tabel klasifika liga. Terakhir, saat tulisan ini diketik PSS tumbang dua gol tanpa balas melawan tim yang posisinya tepat di bawah Super Elja. Padahal jika melihat performa terakhir sebelum laga sore itu, pada pekan sebelumnya Tira Kabo dilumat Bhayangkara dengan skor telak 4-0. Sementara itu, PSS mendapat tiga poin dari Barito, tim yang sedang berjuang juga menjauhi zona degradasi. Mestinya, pekan 27 menjadi titik kembalinya tren yang baik buat skuat Super Elja. Malah yang terjadi justru sebaliknya.

Pelatih dan pemain baru yang datang di pertengahan musim hanya tampil menjanjikan di laga pertama saja. Setelahnya, tren buruk menjadi catatan-catatan yang mesti segera diselesaikan. Komposisi anyar skuat PSS cuma menghasilkan 3 kali kemenangan, kalah 6 kali dan seri sekali dari hasil 10 laga. Memalukan tentu saja, terlebih beberapa kekalahan dituai saat melawan Arema, Persik, dan Tira Kabo. Saya yakin banyak dari pendukung yang kehilangan nafsu makan sesaat selepas kalah dari tiga tim di atas karena saya juga merasakannya. Sebab, beberapa laga tadi menjadi pertaruhan harga diri. Namun, rasa bangga pada kaus yang dikenakan tampaknya tak dimiliki skuat yang ada kini.

Pola bermain dengan lebih banyak menguasai bola masih tak bisa maksimal karena ujung tombak yang dipercaya masih tumpul. Masalah lain adalah banyaknya pemain absen yang tentu saja membuat beberapa posisi tidak bekerja dengan baik. Inkonsistensi kini malah menjadi momok bagi PSS. Misalkan, hari ini posisi belakang tampil solid namun barisan penyerangan mandul tak bisa cetak gol. Hari besok tiga di tengah bisa kirim umpan ke depan dan dapat beberapa peluang malah di belakang bikin blunder.

Di akhir pekan 27, PSS berada di tangga 11 klasemen sementara. Posisi yang belum aman mengingat persaingan di papan tengah dan papan bawah sangat ketat. Saat kontestan lain berusaha menjauhi zona degradasi dengan menunjukkan tren positif, PSS justru banyak membuang poin penting. Jarak poin PSS dengan posisi zona merah cuma 9 angka sementara musim ini tinggal menyisakan tujuh laga bagi Super Elja.

Saya sendiri tak punya jawaban sebenarnya siapa yang mesti bertanggung jawab atas banyak hasil mengecewakan beberapa waktu belakangan. Ataukah komunikasi antara manajemen, pelatih, dan pemain yang kurang? Atau pemain yang tak cukup siap tampil tapi dipaksakan? Atau memang mereka-mereka ini cuma bekerja seperti karyawan pabrik yang tak bangga pada apa yang dikenakannya? Saya tidak tahu. Yang terpikir adalah ingin sekali rasanya memaksa mereka yang bikin malu nama PSS untuk melepas kostum berlambang candi. Because you always, because you always let us down.

 

(Pandhus)