Langgam Tumbuh Komunal Tani

Bertempat tinggal di Bournemouth adalah sebuah kesengajaan untuk tidak berbuat apa-apa. Kutipan tersebut kubaca dari buku terbaru Yusuf “Dalipin” Arifin bertitel Dongeng Dari Negeri Bola. Ia bercerita lewat narasi yang asyik tentang kehidupan sepakbola di Inggris, mulai dari kultur masing-masing kota hingga keadaan sepakbola industri dewasa ini.

Pada salah satu chapter, penulis ‘mendongeng’ tentang satu klub di lepas pantai Inggris Selatan bernama Bournemouth. Klub ini berada di kota yang santai, ritme kehidupan mereka biasa-biasa saja dan tidak terburu-buru. Di sana, hidup mengalir saja, tak ada tuntutan ambisius. Imbasnya, komunal-komunal kota tak begitu peduli klub sepakbolanya. Sekadar ada saja. Menangan syukur, kalahan juga tak apa. Peduli setan.

***

Aku beranjak pulang sehabis bertukar tangkap dengan beberapa kawan di warung kopi pinggiran kota. Jarak kedai kopi sampai ke rumah lebih kurang sekitar delapan kilometer, tempat tinggal yang masuk di tengah pedesaan dengan dikelilingi ladang tani. Dibarengi hawa cukup menggigilkan, kurapatkan jaket yang sudah apek oleh keringat dan debu-debu jalanan. Pukul tiga pagi aku melintasi jalan tanah berhias rumput tak beraturan, beberapa kerikil berniat menghalangi tapak sepasang roda. Jalan tanah terpampang hanya beberapa puluh meter saja, sebelum akhirnya tanah bertabrakan dengan aspal di pertigaan tepat di timur barat gubuk Mbah Saman. Tepat di titik itu juga, aku lihat ia dan kawan sebayanya sedang antri untuk pengairan ladang masing-masing. “Nembe lep, Mbah? Monggo..” Spontan kataku (Nembe: sedang, Lep: pengairan sawah). Saat musim kering begini, pengairan sawah yang terjadwal memang sudah menjadi ritme bertahan hidup bagi sawah-sawah mereka. Bagian terakhir di pinggiran sawah itu, kulihat mereka menyulut api yang dipindahkan ke bara hingga menjadi gumpalan asap yang lepas dari mulut. Dengan ritme yang santai.

Kehidupan di lereng Merapi umumnya memang punya ritme santai karena letak geografis yang menyajikan kilau sawah: sejuk, tenang, dan tak melulu dijejali kebisingan. Tentu beda dibanding kehidupan di kota yang serba cepat dan tergesa-gesa. Mayoritas penghuni lereng gunung hidup sebagai petani, boleh dikatakan sebagai orang yang sederhana, sak madyone kalau kata orang Jawa. Ciri khas tersebut tak lepas dari iklim dan lingkungan di mana ia tumbuh juga berada.

Menikmati waktu dengan cangkul, air, dan ladang; petani tetap tersenyum tenang, dengan kadang-kadang disertai kepalan tangan melawan rasa lelahnya. Mereka membangun desa dengan sistem gotong royong. Saling bantu satu sama lain merupakan spirit hidup mereka untuk menuai hasil yang baik. Mulai dari proses menanam tunas padi sampai musim panen tiba, satu sama lain sudah sama-sama sepakat untuk saling bantu. Sekilas, gotong royong nampak seperti sesuatu yang sederhana namun nilai positif yang terjadi begitu besar. Dengan bersama-sama, masyarakat menjadi lebih kuat menghadapi masalah yang muncul. Kultur ini membuat mereka secara luhur mengesampingkan kebutuhan pribadinya untuk memenuhi kebutuhan bersama. Masing-masing berperan sesuai dengan porsinya. Ada yang menanam benih padi untuk kelangsungan hidup, membuat pondasi di tepi kali, membangun pos ronda, hingga mengecat gapura. Sekecil apapun salah seorang ikut dalam gotong royong, pasti bermanfaat untuk kehidupan bersama. Untuk desa yang dibangun bersama.

Anggap saja membangun desa sama halnya dengan membangun klub sepakbola. Pagi itu, aku membayangkan sistem petani membangun desa sangat mirip dengan suporter menghidupi klubnya. Sekaligus menolak keadaan yang terjadi di kota Bournemouth, Pesisir Inggris Raya. Bahwa di tempatku tinggal, di tempat yang ritme kehidupannya santai, gairah dan kegilaan akan sepakbola justru tak bisa dinalar. Atas nama klub yang dibela, suporter membangun ‘desa’ benar-benar melalui proses yang tidak gampang. Mulai dari gotong royong membuat pondasi sikap dan manifesto, menjual merchandise untuk menghidupi klub, membangun media komunitas, semuanya dilakukan dengan ikhlas dan penuh keluhuran batin; sama halnya petani yang bersama-sama membangun desa. Saling rangkul satu dengan yang lain ketika di atas tribun, saling bantu ketika ada kendaraan petani lain yang mogok di jalan saat laga tandang.

Memasang warna bendera hijau di sepanjang jalan kota, selalu dilakukan bersama-sama.

Jalan cerita entah kapan akan habis. Yang pasti, teras stadion tak pernah gelap, tiap lelah terganti dengan tekad. ‘membangun’ agar PSS selalu jadi lebih kuat, agar menjadi histori mesra di kemudian masa. Petani, desa, gotong royong, dan sepakbola. Pagi itu kusimpulkan kultur sepakbola lereng Merapi.

(Pandhus/Oktober 2019)