Menulis Sepakbola Saat Ia Tidak Ada

Pagi ini semua begitu terasa benar. Melek mata tanpa pusing, ibu yang tidak lagi meriang dan kamar yang tertata rapi. Setelah usek-usek kelek barang sekali-dua pandangan saya tertoleh pada buku yang tergeletak di samping kasur dan seketika ingat bahwa semalam harusnya tulisan jadi tapi jadwal seperti biasa kalah oleh ketiduran. Menulis selama sebulan penuh ternyata tidak mudah sama sekali. Terutama jika tulisan-tulisan seperti di blogku hanya membahas satu hal saja. Dalam kasus ini sepakbola. Hal makin jadi rumit karena sepakbola sedang tidak berjalan sehingga pikiran-pikiran yang segar tidak melulu hadir, mengandalkan ingatan juga menemukan kesulitan karena jarang sekali ada memori yang awet setelah tahun-tahun yang terlewat. 

Beberapa hari lalu Bang Wiro sebagai ikon gelaran menulis sebulan ini menyinggung tentang tekanan dalam menulis yang kontinyu, aku masih abai dan merasa bahwa ide selalu ada di udara ditunggu untuk ditangkap. Toh sampai hari kemarin, aku masih bisa menulis di menit-meni akhir. Bahkan menulis dua kali sekaligus sempat bisa dilakukan jika memang ketiduran dan terlambat submit. Kembali ke pagi ini, sampai sebelum mataku terpejam bayangan untuk menulis sama sekali belum muncul. Otomatis pagi yang gemilang macam hari ini harus dimulai dengan grasa-grusu mencari awal tulisan. Sejenak aku berhenti mendikte otak saya untuk mencari ke depan dan mulai jalan putar balik ke belakang.

Memangnya mudah menulis sepakbola bahkan ketika tantangan sebulan ini dimulai? Kukira memang tidak pernah mudah. Menulis tentang sepakbola, apalagi spesifik pada PSS Sleman dan cerita-cerita di sekitarnya tidak pernah terlampau mudah. Itulah sebabnya kenapa buku sepakbola tidak pernah terlalu gampang lahir. Ia tidak lahir selancar buku-buku patah hati yang tiap bulan bisa kamu cari judul barunya di toko-toko buku. Buku sepakbola adalah endapan pengalaman bertahun. Tantangan macam ini mengetuk pintu depan otakku, mungkin juga otak Pandhu sebagai partner menulisku di blog. Sepakbola Indonesia sedang beku. Tulisan-tulisan reaksioner mudah sekali terbit saat PSS berlaga.

Kita bisa menulis tentang jalannya pertandingan, strategi pelatih, analisis gol dan kebobolan, bahkan cerita-cerita kecil di seputar stadion yang selalu tidak pernah sama. Mencoba menulis dengan modal ingatan juga tidak pernah mudah, selain karena ingatan yang skip disapu alkohol, menulis secara kontinyu selama satu bulan membuat tembok yang cukup tebal berisi ketakutan. Aku sendiri takut menulis hal-hal yang sama berulang-ulang. Oh ini sudah pernah, oh itu juga sudah, oj itu wagu ditulis, dan hambatan-hambayan lain. Beruntung aku menyimpan satu lagu Eminem di telepon selular yang cukup sering kudengar. “…feel like I’ve already sais this kabillion eighty times. How many times can I say the same thing different ways that rhyme?…” Bahkan seorang Eminem yang jago bikin lirik mengalami benteng yang sama, ketakutan menulis hal yang sama lagi dan lagi.

Bagaimanapun juga, aku merasakan hal yang sama. Ketika aku menyukai satu hal dan hidupku habis di hal-hal itu maka memang itulah yang selalu akan kuhasilkan. Menulis lagu juga tentang sepakbola, menulis blogpost juga tentang sepakbola. Selalu akan mengatakan hal yang sama berulang-ulang dan pada satu titik orang-orang akan bosan tapi buatku tidak jadi soal. Eminem tetap memproduksi rap yang cepat, ia tidak berusaha mumble di tengah kebingungannya mengulang-ulang pesan di liriknya. Maka aku juga tidak berubah, tetap menulis sepakbola. Walau sedang kusut, walau sedang kalut, walau selalu kebingungan untuk memulai, untuk mengisi, dan untuk mengakhiri. Karena kalau terus berada di balik tembok, kita tidak menuju manapun. Seperti judul lagu si kulit putih ini, Guts Over Fear.

 

Tonggos,

Mei 2020