Minggu Pertama Akhir Tahun [1]

Wajah-wajah itu lebih ceria sore ini, di penghujung matahari yang condong, di langit yang memerah megah. Ini adalah sore paling intim sepanjang berjalan liga tahun ini di rumah kami sendiri. Sejak malam tadi sebelum hari berganti, Sleman sudah menyisip kemenangan seperti mencium tepi cangkir espresso yang pahit. Tempo hari sebelum pertandingan sore ini adalah satu waktu yang senyap di bulan November. Laga tidak dihadiri tribun selatan karena tuntutan pembebasan Yudhi dan Randi dari jerat hukuman poster yang tidak masuk akal. Pertandingan berjalanan seperti latihan sore dan orang-orang ramai berandai kapan pemilik klub menyudahi arogansinya. Pertanyaan tentang kapan terus timbul sejak hari yang sepi itu sampai pada satu malam menjelang laga kontra Badak Lampung. 

Menjelang pergantian hari, kabar berhembus sangat cepat bahwa tuntutan terpenuhi sehingga besok tribun selatan sudah dapat diisi seiring berakhirnya boikot. Pertandingan pertama dj bulan Desember diawali dengan kemenangan malam itu bahkan jauh sebelum kick off dimulai, bahwa suporter dapat mendesak pemilik klub untuk berhenti bertindak tidak masuk akal. 

Kembali ke sore yang ceria itu, tribun diisi hanya sedikit orang. Pertandingan tengah minggu dan jadwal sore adalah pemakluman paling biasa musim ini. Banyak dan sedikit tidak pernah jadi soalan berarti, bagaimanapun juga yang lebih penting adalah bagaimana hari itu terjadi. Seperti bermain tanpa beban sama sekali, namun justru lebih ngotot dibanding hari-hari sebelumnya. Seolah kehausan, para pemain berlarian mencari oase dahaga. Melepaskan kerinduan pada hujan gol dan krisis ketidakmampuan. Jika selama ini kami berkawan dengan keberuntungan, maka sore ini kami meupakan itu. PS Sleman menjebol gawang Badak Lampung 5 kali dengan selebrasi para pemainnya ke belakang gawang. Pesta macam ini jarang terjadi di tengah hasil imbang yang tercatat di Sleman. Maka dari itu selayaknya semua orang merayakan dengan khidmat sekali. 

Nyanyian terlantun lantang meski tribun dihuni sedikit manusia. Senyum seperti diukir pengrajin wahid di pintu-pintu jati. Tidak ada amarah sore itu. Bahkan pesta diisi pula dengan flare yang sudah lama sekali tidak terihat nyalanya. Ini adalah intim yang benar-benar merdu. Mirip dengan era dimulainya tribun ini bersorak, sedikit namun bangga. Barisan hitam di selatan pernah ada di satu masa merayakan sepakbola dengan semangat membara macam ini. Orang-orang merayakan bagaimana sebuah kebanggaan dimiliki dalam hatinya masing-masing. Dengan geliat yang mesra macam ini, apapun yang terlontar dari atas stager selalu disambut baik. Maka menyanyilah kami lebih keras sore itu. Serta tawa yang tak henti-hentinya di kemudian hari.

Tonggos,

Desember 2019