Rindu Belum Dibayar

disclaimer: tulisan ini ditulis berdua: Tonggos dan Pandhu atas kebingungan PSS Sleman dalam pertandingan dan lini masa yang berlomba mencari kesalahan.

***

“Tak ada satu pun dari kami yang ingin berada jauh dari PSS.” Jika terdengar berlebihan itu terserahmu saja. 

***

Kompetisi dilekasi, Elang Jawa terbang kembali ke lereng Merapi selepas takluk di Makassar, menatap pekan kedua berjumpa Persiram atau PS TNI atau PS Tira atau Tira Kabo atau Persikabo atau yang mana saja yang oke buatmu.

Kamu tahu, tribun selatan tetap kuat pada sikapnya. PSS akan bertanding tanpa sayap-sayapnya. Belakang gawang selatan jelas kosong melompong malam itu, meski tetap tak sedikit penonton mengisi sudut tribun yang lain. Namun selalu ada yang kurang saat seorang vegetarian tak memasukkan tomat dalam hidangannya.

Hari Minggu ini mungkin adalah satu hari yang berat karena keputusan boikot tetap berlanjut bahkan sebelum akhir pekan mampir. Ada secuil keinginan untuk melewati akhir minggu dengan biasa saja; bangun kesiangan dan sunmor kemudian, lantas pulang takut mendung dan mengutuk Senin yang bahkan belum tiba. Tapi tidak pernah semudah itu menjadi bagian dari sepakbola. Tidak semudah membeli tiket dan duduk manis dalam dua babak yang memanjakan mata. Sebaliknya, suporter kerap menghentikan tarikan nafas dalam serangan yang datang bertubi-tubi berusaha menggoyang jala. Sambil tetap berjingkrak pada doa di tengah lagu, menjaga rasa percaya bahwa peluit akhir akan berakhir dengan sorak. Maka hari Minggu lebih berat karena kami semua tidak melakukan itu.

Rindu belum boleh dibayar dan kick off berlangsung hening. Menit-menit kemudian berubah menjadi mimpi buruk bagi siapapun karena bola bergulir tanpa arah, tanpa tujuan. Berakhir 0-0 seperti pertandingan tidak pernah dimulai. Pertandingan berlangsung tanpa tepuk tangan yang biasanya terdengar meriah bahkan saat penggawa mulai masuk untuk pemanasan. Tak lama setelahnya, cemooh mulai datang pada tribun selatan, jadi kambing hitam atas permainan PSS yang kacau.

Kalau kamu sanggup, coba tengoklah lini masa atau kolom komentar instagram ofisial PSS. Kamu akan banyak menemui akun tanpa identitas jelas yang menyalahkan aksi boikot tribun selatan. Disudutkan dengan argumen yang klasik bahwa PSS berlaga tak maksimal karena tak adanya dukungan di belakang gawang. Sejak pemain bintang didatangkan, aku dan kamu mungkin sudah mengira opini macam ini akan terjadi.

Bicara soal boikot, aksi serupa ini kerap terjadi di dunia sepak bola sebenarnya. Lihat bagaimana ultras Lazio dan Roma yang enggan hadir di Olimpico pada derby 2014 lalu. Mereka melancarkan boikot karena kebijakan klub yang melarang kebebasan di atas tribun. Di Jerman, Sud Tribun Dortmund enggan hadir pada laga tandang melawan RB Leipzig karena isu klub tersebut dibangun tidak berlandaskan asas sepakbola yang sportif. Aksi-aksi tersebut jelas menunjukkan bahwa suporter tak mau begitu mudah tunduk pada kebijakan yang membatasi mereka, dengan tegas mereka katakan suporter bukanlah seperti anak anjing yang sedang dilatih.

Selain mendukung di atas tribun, kesadaran bersikap kritis pada tim adalah bentuk kepedulian yang lain. Jika kamu mau mengkritik kesepakatan ini, lebih baik lihat lagi bagaimana bertahun-tahun suporter selalu berusaha menemani tim ini berlaga tanpa peduli jarak dan waktu, dari kasta kedua sampai yang kita lihat hari ini bersama. Sejak sepi peminat hingga terang benderang berbagai rupa spotlight. Tidak sendiri ia tumbuh dari Elang kecil menjadi Elang dewasa yang patut disegani. Jika kamu menertawakan keputusan kami hari ini, sebaiknya kamu teruskan hingga ada waktunya kamu bungkam karena kami berhasil.

(Tonggos & Pandhus/Maret 2020)