Yang Dirindukan dan yang Dibayarkan

“…rasane puncak hidupku ki pas PSS ngegolke…” ucapnya di suatu siang yang bolos kerja, banyak tahun silam. Aku dan Bagong terdiam saling melirik dan menatapnya kembali. Di kamar kos ini pertandingan sedang menunggu waktu, malamnya nanti kami akan berangkat kalau ingatanku tidak salah. Agak berantakan sisa minum semalam dan kembali berantakan karena botol sudah dibuka beberapa jam lalu. Bapak ini, bapak Gobeer sudah datang sejak Kamis, selalu begitu saat dulu ia kudu bekerja di pesisir utara Jawa. Kembali ke bumi sembada sebelum akhir pekan dengan marah dan kecurigaan atasan karena melulu hilang sebelum harinya libur. Aku sendiri meneladani kegilaannya pada tim ini, pada apa yang ia impikan, tentang sepasukan orang nekat yang mengikuti sepakbola, tanpa alasan kecuali kebanggaan. Sifatnya yang tidak menginginkan apa-apa selain melihat PSS mencetak gol otomatis mengajarkan kami hal yang sama, bahwa apapun yang akan terjadi semuanya demi melihat gol tercipta. 

Tidak bicara tentang skor saja, gol lebih dari sekedar angka untuk orang-orang yang mengikuti Superelja senantiasa. Dimulai dari percaya pada para pemain, dibarengi semangat yang tutur-tinular dari lapangan dan tribun, bukan hanya perkara bola masuk ke gawang. Ada strategi yang dibangun oleh pelatih, ada kemampuan yang setiap hari diasah, dan ada tekad yang terus dipupuk, serta para pengikut yang setia menyaksikan laga. Tentang gol, persiapannya sudah dimulai jauh sebelum peluit pertandingan dimulai dan karena itulah hidup boleh berhenti sejenak saat gol tercipta. Seperti rencana yang terwujud, seperti dahaga yang terbayar.

Dua kali gol dirayakan saat lawatan ke Jakarta kontra Bhayangkara, sekaligus menutup pancaroba gol dan tiga angka. Kemenangan tandang yang seakan menjawab kecewa beberapa pekan sebelumnya. Sorak tentu meledak di peluit akhir, senyum juga terus mengembang sejalan pulang. Penantian ini adalah hutang harapan yang terbayar lunas. Percayalah, sulit sekali menggambarkan kemenangan kemarin dalam satu-dua kalimat saja. Pemainpun ikut bersama para yang setia merayakan, meluruhkandaskan rasa curiga apakah tim ini bisa memberikan yang terbaik di sisa liga. Nampaknya harapan besar masih ada untuk menaruh nama besar Superelja jauh dari dasar zona berbahaya. Dua gol dan tiga angka kemarin buatku adalah bayaran atas rindu yang lama melekat pada kita. Dibayar dengan apik, jauh dari rumah, tapi soraknya lantang di tiap sudut desa. Harga yang pantas untuk sebuah penantian, sekaligus membangkitkan lagi bara yang sempat redup. Sisa pertandingan liga bersama akan kita rebut.

Kembali ke hari itu, entah di Jakarta sana atau di Sleman sini, semua orang yang mencintai PSS merayakan dengan cara mereka masing-masing. Mungkin pada hari itu, kita semua tidak peduli apakah manajemen bekerja dengan baik atau ada masalah apa yang terjadi di dalam tim. Barang sebentar kita meluapkan rindu dan merayakan peluit pesta itu. Karena aku yakin dalam hati kecil kita semua, satu kalipun kita tidak terbersit pergi meninggalkan klub ini jika hal-hal buruk mulai terjadi. Seperti yang banyak sudah kita lewati sebelum hari ini.

Aku cinta kamu, ti amo Superelja.

 

Tonggos,

Oktober 2019