Stella Artois

0

“Stella Artois, jajaran bintang.” Kata Bo-Jansen. Seorang kawan dari Amsterdam menjelaskan makna nama bir yang sedang ia tenggak di waktu istirahat kami berdua di tengah riset sawit. Pikiran saya menerawang ke Sleman, jauh di seberang pulau, diikuti oleh kemarahan Bo dengan cerita tentang Ajax yang melulu kehilangan pemain kunci besutan akademi mereka, dibeli oleh tim-tim besar Eropa dan membusuk tanpa pernah kembali. Juga tentang Ajax yang gitu-gitu aja tapi tetap ia ikuti.

Dulu, perbincangan tentang PSS meluncur begitu saja sewaktu-waktu di komplek kos kami, Ultras PSS, tentang apa saja. Kadang di pagi yang terlambat ke kampus, kadang di siang lepas kelas, kadang di malam sebelum judi samgong, kadang di sebelum subuh yang aduh aku insomnia geng. Salah satunya barang tentu tentang pemain yang jadi impian masing-masing dari kami untuk bergabung dengan PSS. Tiap-tiap penghuni kos punya gacoannya sendiri-sendiri, setidaknya satu saja nama jika suatu saat klub ini punya lebih banyak dana daripada musim sebelumnya.

Seingat saya, nama yang selalu saya bawa dalam andai-andai adalah Bustomi dengan 1 milyar rumor bandrol saat itu. Jauh sekali dalam bayangan bahwa suatu saat ia benar-benar mendarat di Sleman, sementara banyak pemain kunci sering lepas kontrak begitu liga sudah mepet kickoff musim berikutnya. Dan sore jadi hiburan karena seleksi terbuka adalah ajang menggerutu lain, jauh dari Bustomi, jauh dari nama-nama yang ada dalam pikiran masing-masing orang yang datang menonton seleksi. Beruntungnya, ada pemain-pemain lapisan kedua yang tampil bersinar, yang selalu bisa dielu-elu sepanjang musim; Mudah Yulianto, Andrid, Ferry Ronaldo, Rasmoyo, dan satu-satu nama yang bergantian jadi kunci permainan PSS waktu demi waktu. Toh sepakbola bagi kebanyakan orang adalah kontrak seumur hidup, dan saya (juga banyak orang lain) tak meninggalkan PSS hanya karena pemain impiannya belum kunjung bergabung.

Jauh berselang, setelah 10 tahun tribun selatan menyala, sepakbola tanah air kembali bergeliat sejak awal tahun. Dibekukan oleh pandemi, kini sepakbola kembali dibicarakan kencang-kencang setelah satu tahun meninggalkan bisik-bisik kapan akan dimulai kembali. PSS memulai tahun di triwulan pertama dengan berita transfer gila-gilaan. Pemain yang datang punya nama-nama besar yang mentereng. Herannya, PSS melakukan pembelian di awal bursa, penuh keyakinan dan jor-joran, jauh dari kebiasaan yang sudah saya hafal tiap liga bersiap mulai. Skuat dipadati dengan pemain-pemain lapisan pertama, saya heran bukan main. Lini masa heboh pula sebab memang tidak biasanya terjadi. Sebutan Los Slemanticos tercuit di media sosial, tipis-tipis seperti Real Madrid yang bertabur bintang.

Pada satu kesempatan, saya mengenal istilah Los Galacticos. Tim penguasa liga Spanyol yang ajeg membeli pemain-pemain bola dengan nama besar -dengan bandrol tinggi yang spektakuler; tentu saja. skuat bak jajaran bintang, jauh di atas sana dan tim-tim pesaingnya seperti manusia yang mencoba melawan dewa. Di atas kertas, tentu Madrid selalu menjadi unggulan dalam prediksi skor, dalam statistik, dan dalam voor judi internasional. Disanding lini per lini, Real Madrid selalu tampil superior atas data-data kecakapan pemain-pemainnya. Sayangnya, sepakbola tidak dimainkan di angkasa. Sepakbola dimainkan di tanah lapang yang mau tidak mau memaksa jajaran dewa turun ke bumi menginjak tanah. Kadang ia terpeleset dan berbuat konyol seperti manusia biasa. tendangan kadang luput dan seragam putihnya tak selalu bersih sebab dalam sepakbola manusia bersaing segigih mungkin melawan dewa sekalipun. Dan tackle keras manusia tidak jarang membuat dewa-dewa terjungkal.

Dalam cakupan versi kabupaten, PSS mungkin mengagetkan publik dengan catatan pembelian yang luar biasa. Paling dekat dalam ingatan, PSS pernah menggaet gerbong Malang dengan Waluyo dan yang lainnya, saya ikut heboh. Andai-andai tentang Bustomi terasa dekat. Setidaknya Sleman pernah punya Juan Revi, sejawat yang sama ampuhnya dan Super Elang Jawa memulai liga dengan semarak dan percaya diri. Rasa yang sama hadir tahun ini. Wajar jika orang-orang optimis klub akan memulai liga dengan baik, plus dengan target yang terasa realistis hari ini. Walaupun begitu, sekali lagi, sepakbola dimainkan di muka bumi. Tidak ada dewa yang benar-benar berkuasa, siapapun bisa terjegal kapanpun, termasuk PSS.

Super Elja pernah punya Pak Pardji yang royal bukan main, diikuti oleh Soekeno yang terbilang pelit bukan kepalang. Kali ini wajah manajemen jatuh pada Marco. Bagi saya, sekalipun masih terheran, pembelian besar-besaran kali ini adalah satu upaya yang cukup berani mengingat sepakbola belum tergelar dengan sorak-sorai. Mentok di kolom komentar live streaming saat besok PSS berlaga. Bisa jadi inilah ikthiar yang coba ditunjukkan manajemen pada khalayak, sebab memang itulah kuncinya sepakbola: berusaha sampai hasil ditentukan Tuhan. Dan nama-nama besar yang kini bercokol sebagai skuat, saya harap mengimani hal yang sama bahwa PSS adalah bagian hidup yang selalu saya banggakan. Tentu saja ketakutan-ketakutan datang cukup cepat dengan dihapusnya tradisi lelet belanja pemain. Bagaimana jika target meleset? Bagaimana jika pemain baru tidak cukup berjuang? Akankah bensin habis di tengah jalan dan PSS jadi truk yang mangkrak? Atau lebih ngeri, PSS ga akan dibawa pergi kan kalau tujuan-tujuan pemodal ga kesampaian?

Kembali soal ikhtiar, tentu saya sebagai manusia juga hanya bisa berupaya menjadi pendukung yang senantiasa merayakan PSS. Urusan-urusan ketakutan hanya bisa dijawab jika besok situasinya benar terjadi dan dalam rentang waktu itu manusia tetap tempatnya berusaha dan bikin salah. Sebab itulah garisnya manusia dan Tuhan; manusia tidak menentukan hasil. Pemain datang dan pergi begitu mudah di sepakbola yang penuh jual-beli. Siapapun bisa masuk dan tinggal, esok harinya bisa saja ia berganti warna jersey. Tidak pernah ada nama yang lebih abadi dibanding klub itu sendiri. Buat saya, siapapun yang datang sama seperti siapapun yang telah pergi. Suatu saat mereka main buruk, maka tak segan saya katakan. Dan bilamana mereka main bagus, bisa dipastikan ada nama mereka dalam gemuruh sepanjang waktu. Sebab sebuah klise punya alasan untuk menjadi klise, “nama di punggung tidak lebih besar dari lambang di dada.”

Ikarus jatuh dan tenggelam setelah terbang menantang matahari, semoga PSS tidak begitu.

(Tonggos)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here