Contra Piedra

Jalan yang ditempuh tim kebanggaan kami sudah terlampau bikin geram. Kini PSS menjauh, tanpa ada penjelasan yang dapat diterima oleh banyak dari kami sebagai suporter. Sejujurnya kami tidak kaget, karena sedari awal memang mereka datang tanpa permisi dan sekadar umbar janji.

Monolog: Melawan Batu/Contra Piedra

Tonggos Darurat – 976 Stud – dibataspagar (2021)

Edelweiss, edelweiss, bless my homeland forever!

***

“Di sini, sebelah sini.”

“Yang sebelah sana sedang tidak di tempat. Kemana? Ndak tau saya. Saya dulu yo sempat nyari tapi ndak ketemu. Mau bicara? Ya silakan saja ditunggu. Monggo.”

“Oh bicara sama saya? Saya sama seperti anda, gusar. Sebab sepakbola sedang jauh sekali dari tempat kita duduk. Atau..ya, berdiri lah kalau sedang seru di televisi. Tapi itu jarang sekali terjadi kalau saya ingat. Anda juga menonton kan?”

“Irfan jaya, meliuk-liuk dia di pertandingan pertama, kocek sana kocek sini. Oper ke Milla. Oh saya ngerti kalau serangan ndak harus melulu jadi gol. Musuh juga pasti berusaha menahan serangan kita. Kadang-kadang, bola mentah di kaki pertahanan mereka seperti di pertandingan kedua. Diumpan bola cepat-cepat menuju sisi kiri, serangan balasan. Saya ndak khawatir, sebab bek kiri adalah pemain paling kenyang pengalaman dari seluruh isi tim. Bayangkan, espanyol dan Malaga di eropa jauh sana pernah dicoba. Katanya juga tanah britania sempat tertarik. Apa ndak bikin bangga catatan-catatan pengalaman macam gitu buat sebuah klub bola?”

“Ndilalah, lapangan di Indonesia ndak sebagus di luar sana. Mungkin. Pemain lawan juga lebih-lebih ngeri di tanah sendiri. Mungkin. Rekan bermainnya juga ndak sementereng waktu dia kenyang pengalaman di eropa dulu itu. Bisa juga lho. Makanya saya ndak heran kalau dia agak kesusahan nahan serangan-serangan lawan. Bahkan sering pemain lain membantu kerjanya selama bermain di sini. Kerja sama tim penting kan. Lho jangan ketawa, adaptasi itu ndak mudah lho. Butuh waktu. Lho butuh waktu betul-betul itu. Untung pelatih kita brilian idenya. Bek kiri diganti setelah babak kedua. Eman-eman to mas kalau dia tampil sebelum betul-betul bisa beradaptasi dengan permainan di sini.”

“Pelatih kita itu cerdik bukan main. Belio ngerti kalau umpan-umpan panjang itu ndak popular di Indonesia. Orang-orang Indonesia diajari lewat televisi. Ini lho, ada teknik menyerang dengan umpan panjang, jauh…urusan terukur atau ndak itu balik ke nasib juga. Ndak bisa kita serta merta menyalahkan kemampuan pemain. Toh asal bola dibuang ke depan, nanti kan juga dikejar sama Milla atau Irfan jaya. Ndak jadi terlalu soal itu.
Lagipula, masih dua laga lho PSS bertanding. Masih banyak sisa pertandingan buat berproses. Bagaimana kalau terlambat berbenah? Anda itu terlalu pesimis pada proses. Namanya juga proses butuh waktu. Lhooo ndak percaya. Ya memang kalau terlambat nanti degradasi. Tapi ndak jadi soal to? Degradasi tinggal naik lagi. Toh suporter PSS itu kan sangat loyal, jadi klub ya ndak perlu khawatir kalau suporternya bakal marah dan ngomel-ngomel. Betul to?”

“INILAH SEPAKBOLA MODERN YANG PENUH GEGAP GEMPITA! PEMAIN SERBA BINTANG! NAMANYA MENTERENG KONDANG KALOKA SEANTERO NEGRI! TAKTIK YANG NDAK SEMUA ORANG BISA PAHAM!”

“Sebab ini hal baru, yang selama ini ndak tersentuh oleh suporter sepakbola lokal yang tribal. Fanatisme sudah kuno! Saatnya duduk di depan televisi. Mendengar komentator yang kata-katanya kreatif akrobatik. Walau kadang ga nyambung asal menghibur. Saya terhibur. Kalimatnya bagai sulap. Sehingga kita bisa tertipu dengan kondisi di lapangan hijau yang sedang kena serangan dan Ega habis-habisan menahan gempuran lawan. Kita, sedang asyik, khusyuk, dan terkekeh dengan komentator yang mendalang jebrat-jebret. Kita nikmati saja produk tontonan dari kotak dalam satuan inchi. Ndak perlu bentang-bentang banner dan teriak keras-keras. Kuno itu. Stadion kosong saja sekarang sudah ramai kok dengan rekaman-rekaman suara. Sudah lewat era berkorban diri. Sekarang yang penting anteng, nunggu sepakbola mulai dan membalas sapaan selamat pagi dari media sosial klub kita. Sudah itu saja.”

“INILAH SEPAKBOLA MODERN YANG PENUH GEGAP GEMPITA! PEMAIN SERBA BINTANG! NAMANYA MENTERENG KONDANG KALOKA SEANTERO NEGRI! TAKTIK YANG NDAK SEMUA ORANG BISA PAHAM!”

“Tidak usah terlalu peduli hasilnya, nanti kita like post foto mereka di sosial media waktu pegang bola.”

“Omong-omong kita lupa berkenalan. Kenalkan, saya bukan seorang suporter PSS. Yo ndak mungkin to seorang suporter bicara senada saya. Kalau anda sendiri?”