Merawat Sepak Bola

Dulu sekali, saat masih belia, sepak bola sudah menjadi perhatian dalam hidupku. Jika diingat kali pertama, pertandingan di Tridadi musim 2004 menjamu Persebaya terekam baik di kepala. Hijau sejauh mata memandang dari Jalan Kaliurang tempatku tinggal sampai pinggir lapangan pertandingan. Musim itu PSS sedang pada top performa, pemain-pemain berkelas selalu apik menampilkan tarian-tarian dengan si kulit bundar di kaki-kakinya. Umpan demi umpan, tekel dan penyelamatan, getar jala lawan, bikin suporter gembira kegirangan memandangi tabel akhir kompetisi. Berita Super Elja tak pernah luput di pemberitaan, koran Merapi atau Kedaulatan Rakyat jadi santapan orang-orang tiap mengawali hari.

Kenangan tentang sepak bola lahir dan terus hidup kemudian, sampai sekarang, sampai hari ini. Dari Tridadi yang tribunnya masih sanggup dipanjat dengan sambungan tali, sampai Maguwo yang megah kini, dari Joice Sorongan sampai Ega Rizky, dari datang ke hari pertandingan dengan orang tua atau kakak atau saudara sampai kini dengan teman sebaya, dan lain-lain dan sebagainya. Mengutip kalimat Zen RS tentang ingatan dan kenangan bahwa, “Kita bisa mengendalikan ingatan. Makanya kita kenal dengan proses menghafal. Tapi kenangan sebaliknya: justru kenangan yang mengendalikan kita. Makanya ada istilah “lupa ingatan”, tapi tak pernah ada istilah “lupa kenangan”. Sebab kenangan itu melampaui lupa.”

Kenangan-kenangan itu, tentang sepak bola, dalam perjalanan yang lumayan jauh memberi banyak nilai yang kemudian dapat kupahami. Teras stadion tak pernah mengenal kelas sosial, kamu tampan, kamu kaya tak berlaku di sepak bola. Jaman sekolah dulu, bisa saja kamu melihat seseorang yang berdiri di tribun yang sama, padahal saat memakai seragam putih abu-abu jelas-jelas adalah musuh sekolahmu. Saat ikut hadir mendukung di luar kota, kamu akan akrab dengan wajah-wajah yang sama, yang bahkan kamu tak tau namanya, tapi merangkulmu di tribun suporter tamu. Pada pertandingan yang buruk dan kalah di rumah sendiri, kamu seakan mengerti isi kepala satu stadion yang raut wajahnya muram tak karuan sambil membatin, “Tetap kuat, ini mungkin hari yang buruk, tapi bukan hidup yang buruk!”. Kamu akan bersuka cita ketika tim meraih tiga angka, meraih juara, merayakan dengan teman, dengan anggur sampai tak sadar.

Di luar pertandingan, buatku sepak bola menjadi pembalasan atas kesibukan dan kerumitan-kerumitan rutinitas keseharian, pekan demi pekan. Seolah-olah kalah pada kehidupan, pada keseharian, namun dengan lantang terasa memenangkannya saat bisa merayakan pertandingan. Sepak bola menjadi tempat pelarian sejenak dan tempat bersiap menghadapi realita di hari berikutnya. Tak seperti dunia dan segala isinya, sepak bola tak pernah melukai.

Pun sampai hari ini, rasa pada sepak bola masih kurawat dengan baik. Tentu saja sepak bola yang tanpa ada batasan-batasan atau skat-skat kelas sosial di dalamnya. Tempatku melepas beban pada pertandingan akhir pekan. Sepak bola yang mempertemukanku pada banyak orang-orang satu lingkaran. Begitulah sepak bola yang kukenal, yang kupahami, yang kemudian tertanam di ingatan dan kenangan sampai tua nanti.

Di sini, pengambil kebijakan klub sudah berganti berkali-kali. Dari jaman APBD sampai hari ini yang banyak orang sebut sepak bola industri. Apapun itu, sepak bola akan tetap kunikmati, dengan cara yang tak akan berubah, dengan teman dan lingkaran yang juga tak berpindah. Sekalipun suatu saat harga berdiri di tribun sudah tak dapat tergapai lagi, aku akan tetap bersuka cita merayakan sepak bola, di warung kopi, gerai warmindo, angkringan, di mana saja.

Tentang yang ramai belakangan, yang dikit-dikit berbayar, kata mantan pegawai Manchester City, Yusuf Dalipin: Bercurigalah dengan perasaan cinta, kesetiaan, melankolia, dan romantisme Anda sendiri terhadap sebuah klub. Rawatlah sedikit ruang sinis dalam pikiran. Supaya kita tidak mudah diperah oleh perasaan kita sendiri. Tumpul dan layu diserap pusaran industri sepak bola.

(Pandhus)