Sepakbola Lereng Merapi [1]

disclaimer: ini fiksi. dan bersambung.

Pagi ini adalah satu dari pagi yang tak terlalu murung di utara kantor PDAM yang biasanya air menggenang di Januari yang becek oleh gerimis. Jalanan terasa lebih lengang dari Senin yang sudah-sudah layaknya orang-orang terlambat berangkat sekolah. Merapi tampak di jauh menjulang di jelas langit. Obrolan-obrolan semalam masih tertinggal di ujung bibir karena tak cukup kopi, sekaligus dipaksanya usai kumpulan itu oleh subuh yang terlewat. Mengintip pelan-pelan matahari dari sela-sela pohon yang berjejer di jalanku pulang. Pas sekali dengan mataku yang mengintip pula kena angin dari laju motorku yang pelan, yang khawatir remnya blong lagi.

Ibu sedang memanaskan air untuk gelas kopi pertamanya hari ini saat aku tiba di teras dengan berisik cakram rem depanku yang kehabisan kampas. Anjing kami masih pulas tertidur di depan pintu. Semua hal seperti biasanya kecuali satu hal. “Baru pulang, Ji?” lontar begitu saja dari Ibu di dapur. “Biasanya ga sampai terang udah di kamar.” 

“Iya buk,” jawabku cepat. “Ngobrolin bola, seru. Nanti sore pertandingan.”

Sepakbola Lereng Merapi, tim bola lokal yang mungkin kalian tidak akan dengar namanya di surat kabar apalagi televisi. Kabarnya yang paling kencang terdengar adalah dari speaker Pak Arif yang disetel keliling kecamatan di atas mobil pick up bekasnya yang sudah reyot, sisaan angkut pasir sehari-hari kecuali hari ini. Hari pertandingan bola. “…Ibu-ibu, rekan-rekan pemuda saya tunggu kehadirannya nanti untuk menyambut Sepakbola Lereng Merapi yang akan bertanding seru di lapangan kita semua…” suaranya lewat agak kencang di depan rumahku begitu punggungku tepat menyentuh kasur untuk tidur. Ia biasanya mengurus toko bangunannya di hari yang biasa kecuali hari sepakbola seperti hari ini. Biasanya lagi, ia akan berputar-putar kecamatan begitu sarapan pisang goreng dan kopi hitam hilang dari meja depan teras rumahnya. Menyerahkan urusan toko bangunannya pada Mas Gema, salah satu pegawainya untuk satu siang sebelum pukul 3 sore mereka sama-sama berangkat dalam pick up reyot yang sama. Aku biasa menumpang di belakang.

Mataku sayup-sayup melemah seiring suara speaker Pak Arif yang berbelok ke gang-gang desa mengulang kalimat yang sama. “Sarapan, Ji?” tanya ibu dari depan pintu. Tak sempat menjawab aku keburu terlelap sambil mbatin, “jangan sampai bangun terlambat!”

Tonggos,

Januari 2020