Sepakbola Lereng Merapi [2]

disclaimer: ini fiksi. dan bersambung.

Sebenarnya pagi yang cerah tidak selalu pertanda mendung lupa datang. Terlebih di Januari. Tiba-tiba saja geluduk merambat pelan-pelan di awan yang menggelap bersamaan dengan masuknya ia merayap ke gendang telingaku. Membuka sedikit mataku dengan kerah baju yang basah keringat karena sumuk pertanda akan hujan selagi tidur tadi. “Bajingan, jangan hujanlah hari ini tolong,” doaku pada siapa saja, atau malah ucapku pada diri sendiri. “Nanti lapangannya becek malah kayak sepakbola 17-an.” Kulirik jam dinding di atas pintu kamar dan waktu hanya terlewat 12 menit dari tengah hari. Masih ada sekian waktu untuk bersiap demi hari ini. Apalagi kalau bukan mandi sebersih mungkin, mirip-mirip suami istri di Jumat pagi. 

Ibu sedang menamatkan lagi Hikayat Musashi dengan gelas kopi keduanya hari ini. Atau mungkin ketiga. Aku tak terlalu ingin mengganggunya jika ia sedang menyelam di obrolan-obrolan aristokrat pedang kayu atau di celoteh-celoteh Poirot dan Miss Murple di lain waktu. Aku memilih mengangguk saja waktu sudut matanya melirik padaku dari balik sampul buku yang mulai kusut kena lembab. Tanganku usil comot saja bungkus rokok miliknya di meja sebagai bentukku minta restu paling akrab. “Bu, minta satu. Oji ganti kalau besuk sukses,” kataku berlalu.

Entah kenapa pikiran selalu lebih ruwet kalau mendung tiba-tiba sudah di atas kepalamu. Orang-orang mulai berkendara lebih cepat dan lebih gesit dari biasanya seperti dikejar rasa putus asa bahwa mereka tidak akan sampai rumah tepat waktu. Bahkan pohon yang berjejer juga ikut berisik dengan daun-daunnya yang cerewet mengingatkan kalau hujan sebentar lagi tiba. Aku sendiri mulai terhipnotis di ketergesaan yang sama dan memacu motorku sedikit lebih cepat sebelum benar-benar ingat lagi bahwa kampas rem motorku hampir habis dan cakram depan mendesis sepanjang jalan. 

iyo iyo dilit meneh tekan nggone Pak Arif,” kataku dalam keyakinan yang sebenarnya paling mustahil.

Di waktu yang sama saat aku memacu motor dalam kecepatan paling masuk akal, Pak Arif pas banget sedang menghitung orderan toko bangunannya yang sesiang tadi diurus Mas Gema. Ia masih duduk di meja kasir sekaligus meja kerjanya di sudut jauh di dalam tokonya yang entah kenapa selalu remang, terlebih di hari matahari tidak terlalu mentereng. Ia sibuk dengan tombol-tombol kalkulator yang dipencetnya satu-satu dalam kaos singlet putihnya dan celana sporty entah model basket atau sepakbola yang didapatnya dari pasar pagi. Membetulkan sedikit kacamatanya yang melorot dan mulai memasukkan lembaran-lembaran seratusribuan dalam amplop-amplop yang sudah diberinya nama sejak malam kemarin dalam redup lilin lantaran listrik mati di desa kami tadi malam. 

Aku sudah hafal betul kalau di waktu-waktu makin mepet begini Mas Gema selalu sedang di halaman belakang toko mempersiapkan bambu-bambu kecil dan bendera-benderanya yang kami buat berdua dengan logo Sepakbola Lereng Merapi hasil karyanya dari mal cat semprot. Bendera-bendera nantinya akan kami sebar ke orang-orang yang ikut mendukung tim sepakbola yang sama, lantas dikumpulkan lagi setelah selesai dan disimpan di halaman belakang toko bangunan.

Sebagai lulusan institut seni, pekerjaan menyemprot cat kaleng ke potongan-potongan kain adalah hal yang terlampau mudah untuk Mas Gema, maka karenanya aku memilih mengerjakan tongkat-tongkat bambunya waktu itu. Menebas jarak melalui tengah petak ladang tebu adalah siasatku menyingkat waktu. Dengan begitu aku lebih cepat tiba di tepi kali yang jarang sekali dipakai ibu-ibu mandi. Bermodal parang pinjaman dari Pak Arif aku membawa pulang 2 bambu pilihanku yang sangat ideal, setidaknya dalam benakku. Berjalan santai kembali menyisir ladang tebu dengan bambu-bambu di pundakku sebelum Karjo Said meneriaki dari kejauhan, “Hei, maling tebu ya? Bocah berandalan bukannya sekolah malah ngapain di sini?”

“Minggu sekolah tutup!” sergahku setengah berlari menahan nafas pendekku yang satu-satu. “Mandor laknat!”

Itulah kenapa aku akan marah besar setiap kali bendera kami berkurang satu.

Tonggos,

Januari 2020