Sepuluh Tahun di Barisan

0

Sebuah esai berantai perayaan satu dekade BCS dan Over Distortion

Oleh: Tonggos Darurat.

Beruntungnya, sepakbola lekat dengan nyanyian-nyanyian yang mengiringinya sepanjang pertandingan. Orang gemar mengumandangkan kata-kata sepanjang sepakbola hinggap di hidup mereka sehingga 2 kali 45 menit tidak lagi cukup. Nyanyian-nyanyian, seruan-seruan, hingga syahadat-syahadat panjang tentang sepakbola diucapkan, didendangkan, diulang berkali-kali; dengan segera, segala tutur berubah menjadi doa. Begitulah, album 10 Tahun di Barisan ini dimulai. Dengan rapal-rapal yang pendek, singkat, namun sarat akan makna dan sikap tentang bagaimana sepakbola bergulir dan tumbuh di Sleman:

Sorak sorai kaum sembada
Pantang diam terus membara
Lewati batas maju bersama
Super Elja bagiku menang

Dan bagiku, doa macam ini adalah pembukaan yang pantas untuk tahun-tahun yang terekam di bait-bait selanjutnya.

Jauh sejak pertama kali menjejakkan kaki di tribun selatan, kepentingan-kepentingan politik adalah hal yang utama dihindari. Praktek-praktek politik di mana pun ia digaungkan kerap memicu runcingnya perbedaan, sehingga berkaca dari yang lalu ia sering meninggalkan nyinyir di bibir. Oleh sebab itu tribun selatan tak lagi ingin mengulang kesalahan dan memilih untuk tidak ikut dalam pertarungan politik apapun. Terlebih lagi, beberapa kali sepakbola dibawa sebagai media kampanye politik. Janji demi janji terlalu sering menguap di atas rumput dari mulut mereka yang mengincar kursi.

Sepakbola di tribun selatan diyakini sejak hari pertama sebagai sebuah nafas baru yang bertujuan hanya dan hanya untuk PS Sleman. Maka layak jika kita semua dipaksa terus-terusan menjaga kesadaran agar tidak pernah larut dalam buai lembut kampanye-kampanye yang rutin berulang. Rasa muak akan praktek politik yang beredar liar dan sekenanya; asal dapat atensi dan suara kemudian hari, disuarakan lewat lagu kedua.

Perhatian! Perhatian!
Awas mereka datang!

Mereka akan terus mencoba, mereka tak akan berhenti. Kita yang harus mawas diri. Kata orang, percuma kritik melulu tanpa solusi. Kataku, bodo amat!

Bagaimana pun juga, tribun selatan sebagai penganut setia PS Sleman tidak bisa dipisahkan dari kegemarannya mengikuti laga di mana saja. Banyak hari-hari yang sudah terlewat dalam satu dekade terakhir dihabiskan di kota orang demi laga-laga tandang. Walau tak selamanya perjalanan berisi tawa dan keriangan, seringkali justru perjalanan-perjalanan dimulai dengan sambat dan buntunya otak mencari dana dan izin cuti kerja. Alih-alih menjadi kewajiban yang memberatkan, laga tandang bagi para pendukung PS Sleman berubah menjadi hak yang dirayakan beramai-ramai, sekali pun tidak selalu berujung poin tiga. Awaydays, seperti kita biasa menyebutnya begitu, menjadi satu dari cerita yang akan kita wariskan di kemudian hari sebagai paket komplit mencintai Super Elang Jawa. Dibawakan dengan riang sebagai track ketiga, nada riang dan genjrengan yang nge-pop seolah bius untuk generasi muda agar tidak berhenti meneruskan tradisi menembus laga tandang. Setelah sepuluh tahun, akhirnya kita mendapat sebutan baru: si penjelajah kota. Semoga kekal cerita-cerita di dalamnya.

Memasuki pertengahan album, dentuman snare yang ritmis mengingatkanku pada derap-derap kaki yang berbaris. Lagu keempat bertajuk 10 Tahun di Barisan sekaligus sebagai benang merah perjalanan tribun selatan. Sepakbola tidak bisa berhenti pada cerita-cerita tentang hari dulu, ia juga kudu menjadi bagian dari mimpi di masa depan. Lagu ini adalah perhentian yang pas untuk melihat sejauh mana langkah kaki sudah berjalan dalam sepuluh tahun yang begitu saja berlalu sekaligus sebagai secuil doa untuk terus bisa melangkahkan kaki lebih jauh. Sepuluh tahun bagi tribun selatan bukan angka yang sudah lewat, melainkan sebagai titik nol baru untuk cerita yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.

Bangga bersama di barisan
Menuju indahnya pelabuhan
Bangga bersama bergenggam tangan
Menuju malam panjang bersamamu kawan

Di tahun-tahun mendatang, kapan pun kaki lelah melangkah, ingatlah selalu bahwa kita semua tidak berjalan sendiri. Kita berlayar menuju hari depan bersama dalam barisan. Dalam tawa, dalam barisan, dalam ingatan-ingatan tentang matahari terbenam di Stadion Maguwoharjo yang agung.

Merayakan 10 tahun yang sudah terlewat bagiku sama dengan membayangkan 10 tahun yang akan ditempuh. Sepakbola tidak berhenti pada angka-angka dan satuan waktu. Peluit akhir pertandingan hanyalah pertanda berakhirnya permainan sementara sepakbola masih akan dibawa dalam hidup hingga peluit mulai babak pertama berikutnya. Menantikan pertandingan berikutnya selalu menjadi kisah lain yang patut dirayakan. Seringkali sepakbola menjadi jalan keluar atas hidup yang buntu, setidaknya bagiku. Sambut hari esok rasanya adalah kredo yang paling pelik tiap kali sepakbola tinggal menunggu waktu untuk dirayakan kembali. Itulah waktu-waktu malam menjadi lebih panjang dari biasanya, dengan denting-denting botol bersama teman dan rindu yang makin ditunggu makin bikin kepala puyeng. Mbededeg ing ati.  Doa-doa panjang mulai terucap satu hari sebelum pertandingan dan amin hanya bisa diucap lewat ketiduran. Atau lewat mabuk yang kelewat kepayang.

Cinta yang tidak pernah diuji adalah cinta yang omong kosong belaka. Orang bisa saja membual bicara cinta kemana-mana seenak udelnya tapi satu kali ia dipaksa untuk berhenti, bisakah ia?

Tribun selatan pernah merasakannya. Dulu sekali, satu hari dari 10 tahun perjuangan, gerbang pernah ditutup benar-benar untuk para penghuni tribun selatan. Amarah mengambang pelan-pelan di seputaran lahan parkir Stadion Maguwoharjo seperti belerang di lereng gunung pada jam-jam tertentu. Hari itu tribun selatan diuji dua hal sekaligus: keteguhan hati dan bebalnya perasaan.

Tentu saja berhenti bukan pilihan sama sekali. Tribun selatan percaya bahwa tak ada batas yang benar-benar bisa memisahkan sepakbola dengan para pendukungnya. Maka hari itu, kuingat betul-betul, kita mulai bernyanyi kencang-kencang dari luar arena dengan harapan cinta tidak berhenti hari itu. Sebagai konsekuensinya, tidak ada lagi yang bisa mengusir kita dari belakang gawang tribun selatan.

Dalam suatu pertemuan virtual dengan mantan dosenku, Prof. Laksono namanya, ia menegaskan bahwa sepakbola adalah katarsis. Sepakbola adalah pelarian dari hidup yang menghimpit manusia. Sepakbola menyodorkan kesempatan untuk meneriakkan kejengahan akan rutinitas kerja, atau pasangan hidup yang menyebalkan atau perdebatan orang tua sehari-hari di rumah atau hal-hal lain yang memuakkan dalam hidup. Oleh karena itu ia digemari begitu banyak manusia karena memang hidup yang adil hanya untuk sedikit orang. Sepakbola menawarkan oase di tengah padang gurun hidup yang gersang. Lagu Kolega dalam album 10 Tahun di Barisan menggambarkan kejenuhan-kejenuhan hidup dengan tepat, termasuk solusinya yang paling mutakhir: menikmati sepakbola bersama teman-teman. Bahkan jika pertandingan masih lama datangnya mungkin kita bisa bikin janji berkumpul dan hadirkan lagu-lagu sepakbola di teras rumah. Dengan begitu malam tidak akan lebih berat lagi.

Perjalanan sepuluh tahun di tribun selatan mau tak mau memaksa orang-orang di dalamnya untuk tumbuh bersama. Tak heran beberapa di antara beribu menemukan pasangannya di kerumunan. Bagi tak sedikit orang, merayakan sepakbola di tribun selatan dan di perjalanan-perjalanan lain mendukung Super Elja sungguh asik dilalui bersama orang yang dikasihinya. Di masa depan, cerita-cerita pertemuan ini akan bertemu dalam nama-nama generasi baru, di sepuluh tahun perayaan mendatang. Entah Ale, entah Elang, entah Marcelo, entah Braga, entah nama-nama apa lagi yang mewakili PS Sleman. Roman di Batas Pandang adalah satu dari banyak cerita serupa.

Garis nasib tidak selalu sama bagi masing-masing orang. Seringkali keputusan-keputusan hidup mengharuskan manusia memilih opsi yang tersulit, salah satunya adalah mengundurkan diri dari barisan. Begitu pula selama tribun selatan melangkahkan kakinya. Tidak sedikit kawan yang terhenti langkahnya, kita yang bertahan sering kali merindukan celotehan dan apa saja yang sering kali mengingatkan waktu-waktu dulu sewaktu kaki masih menderap ke arah yang sama. Kita yang masih bertahan hanya bisa berharap bahwa tak ada yang berubah jika nasib menggariskan pertemuan kembali. Entah kapan waktumu senggang, sempatkan perjumpaan kita kembali di tribun selatan. Aku percaya kau masih ingat lagu-lagu yang dulu kita teriakkan keras-keras demi Super Elang Jawa. Suatu saat nanti, kawan. Kuharap kau tak berubah, tak berbeda.

Kepergian tanpa obat adalah kepergian menuju kehidupan berikutnya. Beberapa dari kita sudah mendahului untuk pergi selama-lamanya. Perjalanan harus tetap berlanjut, namun ingatan tak akan pernah hilang. Kita yang masih hidup hanya bisa menitipkan doa dan meneruskan semangat yang sama. Sebab kuyakini, mereka yang sudah pergi tetap mengawasi kita yang masih melangkah. Sampai jumpa besok suatu saat nanti. Sampai hari pertemuan kita kembali, selama-lamanya. Kunyanyikan dari sini:

Bernyanyilah di sana
Kibarkan bendera dengan bangga
Selamanya kau menjadi
Bagian yang tak tergantikan.

Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here